Landas Pacu di Bandara ini ‘Dipotong’ oleh Jalur Kereta!

Sumber: charismaticplanet

Semisal Anda menemui perlintasan sebidang di jalan raya, sepertinya itu bukan hal mengejutkan. Namun apa jadinya jika Anda menemukan jalur kereta aktif yang melintang di atas sebuah landas pacu? Tenang, ini bukan ada di dunia fiksi saja, tapi jika Anda pernah mengunjungi Gisborne Airport yang ada di Pantai Timur North Island, Selandia Baru, maka Anda akan percaya bahwa perlintasan tidak wajar ini benar-benar ada!

Baca Juga: 10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim

Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, ternyata, Gisborne Airport ini menjadi salah satu dari sedikit bandara di dunia yang memiliki sebuah jalur kereta api yang memotong landasan pacu. Bandara ini sendiri memiliki tiga landas pacu dan satu landas pacu utama yang tidak dipotong oleh Palmerston North – Gisborne Railway Line. Lebih uniknya lagi, jalur kereta ini masih aktif dan masih sering dilalui oleh hilir mudik kereta.

Sumber: charismaticplanet

Bandara dengan luas 160 hektar ini mulai beroperasi sejak pukul 06.30 hingga 20.30 waktu setempat, setiap harinya. Di luar dari jadwal itu, dua jalur beda moda tersebut ditutup dan tidak ada aktifitas apapun di dalamnya. Keunikan yang paling menonjol dari lokasi ini dilihat dari segi kedua moda yang jalurnya sama sekali tidak bisa diinterupsi oleh objek apapun.

Ya, seperti yang kita ketahui bersama, baik landas pacu atau yang akrab disebut runway maupun jalur kereta api memang sama-sama dikhususkan untuk moda yang bersangkutan. Berbeda dengan jalan raya yang dapat dipotong (diinterupsi) oleh jalur kereta api. Alhasil, kedua operator layanan harus saling bersinergi agar kelancaran operasional dari keduanya dapat terjalin.

Baca Juga: Di Lokasi Ekstrim, Pulau Saint Helena Kini Punya Bandara Internasional

Namun, beban yang lebih berat diemban oleh Gisborne Airport. Pasalnya, bandara yang dikelola oleh Eastland Group ini merupakan gerbang masuk utama dan satu-satunya yang ada di kota Gisborne via jalur udara. Dibalik keunikan sekaligus keterbatasannya dalam mengelola jalur udara di sana, bandara berkode GIS ini mampu melayani sekitar 60 penerbangan domestik setiap harinya, dengan kisaran 150.000 penumpang per-tahun.