Kerap Dilecehkan, Awak Kabin Beberkan Kelakuan Penumpang Mabuk

Dalam penerbangan, tak jarang ada kelakuan penumpang yang membuat awak kabin gerah, salah satunya mabuk selama penerbangan. Karena hal tersebut, beberapa awak kabin mengungkapkan beberapa kisah yang mengejutkan tentang kehidupan di pesawat saat menghadapi penumpang mabuk.

Baca juga: Survei: Penumpang “Pengganggu” Terbanyak dari Belakang Kursi

KabarPenumpang.com merangkum dari express.co.uk (14/8/2017), dari hasil penyelidikan baru-baru ini mendapatan bahwa penanganan pada penumpang yang mabuk dalam penerbangan meningkat hingga kenaikan 50 persen dalam satu tahun. Hal ini menyebabkan maskapai seperti Ryan Air menyerukan alkohol tetap bisa disajikan untuk penumpang di bandara, tapi karena keterbatasan penanganan penumpang mabuk di dalam kabin, maka alkohol tak lagi disajikan selama penerbangan.

Dalam hasil penyelidikan tersebut, awak kabin mengungkapkan beberapa cerita mengerikan terkait penumpang yang mabuk dalam penerbangan. Adapun hasil survei The BBC Panorama menyatakan lebih dari empat ribu awak kabin dalam Britain’s largest union Unite bahwa 87 persen menjawab telah menjadi saksi dari perilaku penumpang mabuk.

Satu dari lima awak kabin menjawab telah mengalami beberapa bentuk penganiayaan fisik dari penumpang hingga melampaui batas. Tak hanya itu, satu dari sepuluh orang mengalami pelecehan seksual dalam penerbangan oleh penumpang mabuk.

Ally Murphy seorang awak kabin Virgin sampai berhenti bekerja setelah 14 tahun menjadi seorang awak kabin dan membeberkan hal-hal yang dia ketahui tentang penumpang mabuk di kabin pesawat. “Orang-orang hanya melihat kami sebagai pelayan bar di langit. Mereka akan menyentuh payudara, pantat hingga kaki Anda. Terkadang mereka juga menarik rok,” ujar Murphy.

Sebenarnya ada kode etik untuk penumpang yang mengganggu dan sebagian besar maskapai besar sudah ikut kode etik tersebut dan bandara besar masuk pada tahun 2016. Hal ini menyatakan, bahwa penumpang harus diberi peringatan tentang tidak meminum alkohol dalam penerbangan dan penumpang juga seharusnya tidak dilayani minuman alkohol lebih banyak jika memang membuat mereka mabuk. Namun, kode etik tersebut hingga kini masih dipertanyakan, benar tidaknya diberlakukan pada penumpang terkhusus yang mabuk.

Baca juga: Dibawah Pengaruh Narkotika, Penumpang Mabuk Sukses Hadirkan Jet Tempur F-22 Raptor

Tiga belas persen awak kabin dari hasil survei percaya telah melihat pengurangan perilaku mengganggu penerbangan. Salah seorang kru mengatakan, “Kode etik tidak bekerja. Kami melihat kejadian setiap hari, mingguan hingga bulanan, dimana alkohol terutama yang bebas bea adalah masalah yang signifikan.”

Oliver Richardson, petugas transportasi sipil di Unite National memberi berkomentar, bahwa pelecehan dan perilaku mengganggu menjadi tantangan bagi awak kabin, karena mereka harus bersaing dalam melakukan pekerjaan dan memastikan keselamatan penumpang lainnya tidak mengalami gangguan. “Industri penerbangan  dan Pemerintah perlu mengenali bahwa kode etik harus segera diterapkan, contohnya seperti melihat faktor tingkat konsumsi alkohol sebelum keberangkatan penerbangan, dan juga hukuman yang lebih berat bagi pelaku perilaku tersebut,” ujarnya.