Gunakan Tampilan Bird Eye View, Inilah Masa Depan Pengawas Lalu Lintas Udara

ilustrasi rada pesawat. Sumber: transportationheritage.com

Untuk sebagian orang, terbang di atas lautan atau samudera memang menakutkan, terlebih apabila orang tersebut memiliki trauma mendalam mengenai kejadian seperti ini. Tidak banyak yang dapat kita lihat apabila kita sedang terbang di atas lautan selain hamparan laut biru yang seolah tak berujung. Ditambah lagi dengan kasus hilangnya Malaysia Airlines MH370 di sebelah selatan Samudera Hindia yang seakan menambah ketakutan para penumpangnya.

Pada bulan Januari kemarin, Iridium Communication Inc. meluncurkan 10 dari 66 satelit, dimana data yang dikirim oleh satelit tersebut  memungkinkan kita untuk mengetahui  posisi, kecepatan, dan ketinggian pesawat di seluruh dunia. Walaupun layanan ini baru dapat dinikmati oleh penumpang pada tahun 2018 kelak, namun 2 dari 10 satelit tersebut sudah aktif dan mulai mengirimkan data beberapa minggu ke belakang.

Chief Technology Officer (CTO) Aireon (perusahaan yang mempelopori pelacakan berbasis satelit), Vinny Capezzuto mengatakan alat ini akan menampilkan data pesawat yang sedang beroperasi dari seluruh dunia. Selama 62 jam, satu satelit akan memberikan kode unik yang berisikan tentang informasi dan data posisi dari 17.000 penerbangan, termasuk yang sedang mengudara di atas samudera dan tempat lain yang tidak mungkin dijangkau oleh radar.

Pilot akan menggunakan GPS sebagai penanda lokasi pesawat,namun bukan berarti menara pengawas dapat selalu memantau posisi mereka, karena radar yang digunakan tidak dapat menembus objek solid seperti gunung. Radar yang digunakan tidak dapat memantau dari jarak yang jauh, maka lautan luas merupakan blind-spot yang amat besar.

15 tahun silam, pemantau lalu lintas pesawat mulai menggunakan Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B) sebagai alat pelacak yang menggunakan sistem GPS. Alat yang hanya sebesar kulkas kecil ini amat disukai oleh Federal Aviation Administration. Namun seiring perkembangan jaman, mulai muncul kekurangan-kekurangan dari alat ini, seperti masalah pada radar dan jangkauannya yang tidak terlalu luas. Apabila cuaca sedang baik, jangkauannya hanya 250 mil laut di atas ketinggian 28.000 kaki.

Hal ini yang kemudian menjadi acuan agar pihak penerbangan dapat memberikan pelayanan lebih kepada para penumpangnya. “Dewasa ini, proyek pengawasan lalu lintas pesawat harus berdasar pada rencana penerbangan atau laporan pilot, bukan pada realita. Penyimpangan yang terjadi di pesawat bisa terjadi kapan saja,” tutur Vinny seperti yang dilansir dari popsci.com pada Senin, 20 Maret 2017 waktu setempat.

Dengan memasang ADS-B pada satelit akan mengurangi masalah yang ada, dan memberikan bird-eye-view terhadap pesawat yang sedang lalu lalang di bawahnya. Setelah Aerion 66 menerima data dari pesawat yang sedang mengudara, sinyal yang berisikan informasi akan dipantulkan ke menara pengawas dan proses ini memakan waktu 2 detik.

Memang, perkembangan teknologi seperti ini tidak dapat menyelamatkan MH370 yang transponder GPSnya mati di tengah perjalanan dan membutuhkan teknologi lain untuk mencegah kejadian hilangnya MH370 terulang kembali, tapi dengan metode pelacakan penerbangan akan membuat penerbangan menjadi lebih aman. Ditambah presisi yang lebih baik dan memungkinkan pesawat yang terbang berdekatan menjadi lebih aman. Selain itu, dengan dipasangnya ADS-B di setiap pesawat memungkinkan penerbangan yang lebih cepat dan irit bahan bakar karena dengan informasi yang dikirimkan oleh satelit akan memungkinkan pesawat untuk mengambil rute yang lebih efisien.

Walaupun alat ini belum akan diluncurkan dalam waktu dekat, tapi Iridium telah melakukan beberapa uji coba dengan beberapa konsumennya seperti pemantau lalu lintas udara di Islandia, Kanada, Irlandia, Afrika Selatan dan beberapa Negara lainnya. Keuntungan lain dari uji coba ini adalah beberapa Negara tersebut dapat “berkenalan” dengan teknologi baru ini.

Uji Coba pada Nav Canada. Sumber: popsci.com
Uji Coba pada Nav Canada. Sumber: popsci.com

Uji coba terakhir dilakukan pada Nav Canada, sebuah organisasi pemantau lalu lintas udara Kanada, yang menerbangkan pesawat menuju sebuah daerah terisolir bernama Iqaluit lalu bertolak menuju Yellowknife dan Whitehorse di sebelah barat. “Biasanya kami tidak dapat memantau pergerakan pesawat,” tutur Humas Nav Canada, Ron Singer. Namun dengan menggunakan alat ini, Ron menambahkan dapat memantau pergerakan pesawat secara akurat.