Dukung Target 15 Juta Wisman, Angkasa Pura Airports Implementasi Collaborative Destination Develoment

Pemerintah lewat Kementerian Pariwisata telah menargetkan kunjungan 15 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun 2017. Dan untuk mewujudkan target tersebut, peran serta berbagai instansi menjadi mutlak dilakulan, seperti salah satunya BUMN PT Angkasa Pura 1 (Angkasa Pura Airports) yang telah mengimplementasikan kegiatan Collaborative Destination Develoment (CDD).

CCD yang digagas oleh Angkasa Pura Airports dengan menghimpun berbagai stakeholders pariwisata dan komunitas daerah yang diharapkan dapat meningkatkan potensi bisnis pariwisata dalam mendukung pembangunan & pertumbuhan ekonomi di daerah tempat Angkasa Pura I berada. Kegiatan CDD hingga kini telah diselenggarakan di 9 bandara Angkasa Pura Airports yaitu di Manado, Solo, Kupang, Ambon, Semarang, Banjarmasin, Jogjakarta dan Makassar yang pada penyelenggaraannya turut pula dihadiri oleh stakeholder Airlines, ASITA, PHRI, Dinas Pariwisata, Gubernur, Walikota dan Pelaku Bisnis Pariwisata.

Baca juga: Angkasa Pura I Perketat Prosedur Keamanan di 13 Bandara

Dikutip dari siaran pers Angkasa Pura 1 (8/5/2017), Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya didampingi Staf Khusus Menpar Bidang Connectivity Judi Rifajantoro dan Tenaga Ahli Menpar Robert Waloni melakukan kunjungan kerja ke Angkasa Pura Airports Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. Kunjungan kerja tersebut merupakan lanjutan Roadshow Air Connectivity yang digagas oleh Kementerian Pariwisata untuk airlines, air navigation, dan airports guna mengejar target 15 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun 2017. Kunjungan Menpar beserta rombongan diterima langsung oleh Direktur Utama Angkasa Pura Airports Danang S. Baskoro dan Direktur Operasi Wendo Asrul Rose di Novotel Bali Airport, Mangupura, Bali (8/5).

Menpar Arief Yahya mengatakan bahwa Kementerian Pariwisata telah menetapkan tiga prioritas utama di tahun 2017 yaitu go digital, homestay desa wisata, dan konektivitas udara. Menpar Arief Yahya menegaskan konektivitas udara merupakan tiga critical success yang dapat membuat lebih banyak wisman masuk ke Indonesia. “Pertama, hampir 80% wisman masuk ke Indonesia melalui transportasi udara. Sisanya melalui laut ke Kepulauan Riau, dan cross-border land. Sehingga aksesibilitas udara menjadi Key Success Factor (KSF) bagi pencapaian target kunjungan wisman,” ujar Arief Yahya.

Baca juga: Kementerian Pariwisata Gandeng Jetstar Bangun Pariwisata Indonesia

“Kedua, akses udara ini 80% dari proyeksi 15 juta kunjungan tahun ini, sehingga kita masih kekurangan sekitar 2 juta seats capacity dari negara yang merupakan pasar utama wisman, seperti Tiongkok, Singapura, Malaysia, India, Eropa, Australia, Jepang, Korea, dan lainnya. Ketiga, trafik di sebagian besar bandara Internasional di Indonesia over capacity, seperti DPS (Bali) dan CGK (Jakarta) yang merupakan pintu gerbang utama bagi wisman, juga beberapa bandara lainnya yang banyak diminati oleh wisman, seperti SUB (Surabaya), JOG (Jogja) dan BDO (Bandung),” tambah Arief Yahya.

Angkasa Pura Airports juga menggelar events yang untuk mendorong pariwisata dan pergerakan wisatawan dalam negeri dan mancanegara melalui event Airport Running Series Solo, Airport Running Series Koepang, Airport Running Manado dan Airport Running Lombok. Juga Jazz Gunung Bromo pada 19-20 Agustus 2016, dan Summer Jazz Ijen Banyuwangi pada 30 Juli, 10 September, 22 Oktober 2016.

Menpar Arief Yahya juga mengharapkan agar Angkasa Pura Airports untuk dapat membantu mencapai target 15 juta wisman di tahun 2017. “Masih terdapat shortage seat capacity sebesar 2 juta seat. Untuk itu diperlukan percepatan pengembangan infrastruktur bandara. “Sebagai pengelola airport, Angkasa Pura I masih memperoleh hak monopoli. Untuk itu yang menjadi pesaing adalah diri sendiri yaitu bagaimana memacu kinerja perusahaan menjadi lebih baik,” ungkap Arief Yahya.

Angkasa Pura Airports juga berupaya mengakomodir arahan Menpar Arief Yahya terkait pengembangan bandara seperti integrasi perencanaan yang matang antara jangka pendek, menengah dan jangka panjang, sehingga dapat mengakomodir kebutuhan dalam jangka waktu yang panjang. Terkait pembuatan rapid exit taxiway bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, akan dipertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam rencana jangka pendek dan pembuatan second runway ke dalam rencana jangka panjang. Pengembangan infrastruktur terus dijalankan dibeberapa bandara di bawah pengelolaan Angkasa Pura Airports seperi Bandara Ahmad Yani Semarang, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Internasional Yogyakarta, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, dan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali ditargetkan dapat selesai di tahun 2018 dan 2019.

Selain itu Angkasa Pura Airports juga telah merangsang pihak maskapai untuk terus mengembangkan jalur penerbangannya dari dan ke bandara-bandara di bawah pengelolaan Angkasa Pura Airports dengan cara memberikan insentif keringanan biaya pendaratan (landing fee) hingga 100% selama 6 bulan bagi penerbangan rute baru bandara Frans Kaisiepo Biak, bandara Pattimura Ambon dan bandara El Tari Kupang. Insentif yang diberikan Angkasa Pura Airports ini berlaku selama 6 bulan, efektif per Oktober 2016. Landing fee sebesar 50% selama 6 bulan juga diberikan kepada airlines yang membuka rute baru untuk Denpasar, Surabaya, Balikpapan, Makassar, Jogjakarta, Manado, Lombok, Solo dan Banjarmasin.