Dampak Pengiriman Material MRT, Jalan Sisingamangaraja Mendapat Rekayasa Lalu Lintas

Foto: Bisnis.com

Setelah sebelumnya melakukan rekayasa lalu lintas di Jalan Raya Panglima Polim dan Bunderan Hotel Indonesia (HI), PT MRT Jakarta dalam tahap pengiriman material jalan rel dikabarkan akan kembali melakukan rekayasa lalu lintas, kali ini titik yang mendapat rekayasa lalu lintas di Sisi Timur Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan.

Baca juga: Proyek MRT – Mulai 20 Mei 2017 Ada 4 Tahap Rekayasa Lalu Lintas di Jalan Panglima Polim

Saat ini, pekerjaan konstruksi seperti pembangunan depo, jalur, stasiun layang maupun stasiun bawah tanah terus dilakukan secara intensif. Sebagai upaya percepatan penyelesaian proyek MRT Jakarta, pelaksanaan pemasangan rel akan segera dimulai untuk struktur bawah tanah dan akan dilakukan di area transisi (pertemuan antara struktur layang dan struktur bawah tanah) Jalan Sisingamangaraja sebagai akses untuk pengiriman material ke dalam struktur bawah tanah. Untuk pelaksanaan pengiriman dan pemasangan material ini akan diberlakukan rekayasa lalu lintas berupa pengalihan lalu lintas untuk lajur bus TransJakarta di sisi timur Jalan Sisingamangaraja.

Dikutiip KabarPenumpang.com dari siaran pers PT MRT Jakarta hari ini, pergeseran lajur bus Transjakarta di Jalan Sisingamangaraja ini akan berlangsung pada awal Juni 2017 hingga akhir Desember 2017. Pergeseran ini hanya mengalihkan lajur bus TransJakarta bergabung dengan lajur regular sepanjang lokasi pengiriman material MRT dan dilakukan hanya selama pengiriman material terjadi (dilakukan sesuai kebutuhan pengiriman material). Pengiriman material ini akan dilakukan pada malam hari, dimulai jam 23.00 hingga jam 05.00. Dan berikut adalah map rekayasa lalu lintas di Jalan Sisingamangaraja.

Baca juga: Bangun Pintu Masuk, Jalan Thamrin Kena Rekayasa Lalu Lintas 1 Tahun

Disebutkan, kemajuan proyek MRT Jakarta hingga 31 Mei 2017 secara keseluruhan telah mencapai 73,38 persen, dengan rincian 60,25 persen untuk pekerjaan depo dan struktur layang serta 86,64 persen untuk pekerjaan struktur bawah tanah.