Bus Listrik Untuk TransJakarta, Antara Harapan dan Realita

Lumrah adanya bila setiap pemimpin baru di DKI Jakarta menyerukan angin perubahan, termasuk di dalamnya untuk soal transportasi, terkhusus untuk layanan BRT (Bus Rapid Transit) yang kini dioperasikan TransJakarta. Seperti belum lama ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengusulkan agar TransJakarta dapat menggunakan wahana bus listrik.

Bus listrik jelas menjadi sesuatu yang kedengaran baru di Republik ini, di Eropa pun penyebaran bus listrik masih belum merata, umumnya baru hadir secara terbatas di kawasan Eropa Barat pada jalur-jalur tertentu. Bagi Sandiaga penggunaan bus listrik adalah bagian dari solusi transportasi, khususnya untuk menekan emisi karbon dan tentunya mengurangi biaya operasional operator bus. Bus listrik (electric bus) memang tak ubahnya bus biasa, namun bus jenis ini dilengkapi pantograf layaknya KRL Jabodetabek, meski pantograf di bus listrik dapat dinaik turunkan untuk proses charging di halte.

Pada dasarnya bus listrik terdiri dari dua kategori yakni otonom dan non otonom, dimana bus otonom menyimpan energi di dalam kendaraan, sementara bus non otonom menjaga pasokan energi listrik terus menerus dari luar kendaraan.

Baca juga: Deutsche Bahn Luncurkan Bus Otonom di 2018

Bus listrik otonom biasanya menyimpan energi pada baterai sedangkan bus listrik non otonom memasok tenaga dari luar, yakni di dapatkan dari pantograf yang mengambil pasokan listrik saat bus menhampiri halte. KabarPenumpang.com merangkum dari wikipedia.com, bahwa kendaraan listrik sudah ada sejak abad ke-19, awalnya mobil listrik pertama dibuat di Amerika Serikat tahun 1890 dan mulai populer di tahun 1990-an karena kepedulian masyarakat terhadap lingkungan mulai meningkat.

Salah satu jenis bus listrik yang paling populer adalah batteray electric buses. Bus tersebut menggunakan baterai untuk energinya dengan sekali charge dapat menjangkau sejauh 2.000 km. Biasanya bus tenaga listrik digunakan sebagai bus kota karena keterbatasan jangkauan dan sistem maintenance yang lebih kompleks dari bus konvensional.

Batteray electric buses lebih murah dibandingkan dengan bus diesel. Tak hanya itu, bus listrik disebut lebih unggul dari bus diesel karena dapat mengisi sebagian besar energi kinetik kembali ke baterai dalam situasi pengereman. Hal tersebut bisa mengurangi pemakaian rem pada bus dan penggunaan listrik dapat meningkatkan kualitas udara di kota.

Untuk pengisian baterainya, bus listrik tidak semudah dengan mengisi bahan bakar mesin diesel. Sebab harus mendapat perhatian dengan pemantauan dan penjadwalan khusus untuk mengoptimalkan proses pengisian serta menjamin perawatan hingga penyimpanan baterai dengan benar.

Biasanya pengisian baterai dilakukan malam hari dan menjadi solusi yang aman serta tidak mahal. Solusi yang sebenarnya adalah memastikan jadwal kendaraan harian, menghitung kebutuhan untuk mengisi daya hingga menjaga agar jadwal keseluruhan sedekat mungkin.

Cina sempat bereksperimen dengan bentuk baru bus listrik yang dikenal dengan Capabus, berjalan dengan menggunakan daya yang tersimpan dalam kapasitor lapis ganda. Pengisian listriknya bisa dengan cepat setiap saat bus berhenti di halte manapun. Tahun 2005 awal dua rute bus komersial mulai menggunakan kapasitor lapis ganda listrik.

Baca juga: Bus TransJakarta Zhongtong Terbaru Diklaim Ramah Lingkungan

Di Asia Tenggara, Singapura pada tahun 2018 digadang sudah mulai menggunakan bus listrik. Otoritas transportasi darat Singapura (LTA) menghabiskan 30 juta dolar Singapura untuk pembelian 50 unit bus Volvo Hybrid 7900 ini. Proses pembelian dilakukan melalui tender dan Volvo East Asia (Pte) Ltd yang bermarkas di Singapura memenuhi kualifikasi yang ditetapkan LTA. Dalam laman resminya, LTA menyebut bus Volvo Hybrid ini bagian dari perubahan armada bus kota di negeri itu.

Tentu bukan tak mungkin bus listrik hadir di Jakarta, namun perlu jadi catatan bahwa implementasi bus listrik perlu kesiapan infrastruktur baru, terutama modifikasi halte yang dilengkapi konsol charging.