Balon Udara, Teror Si Bulat Warna-Warni Untuk Dunia Aviasi

Sumber: cindykelly.com

Walaupun benda ini kerap kali diidentikkan dengan sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, namun siapa sangka balon bisa menjadi ancaman dan petaka yang menimbulkan korban jiwa. Seperti yang pernah terjadi di Brea, California, Amerika Serikat pada 15 November 1993. Sebuah pesawat Piper PA-30 Twin Comanche menghantam sebuah lereng bukit di sebelah utara Carbon Canyon Road setelah mesin pesawat tersebut mengalami kerusakan.

Baca juga: Terbangkan Balon Udara di Jawa Tengah, Tradisi Sejak Zaman Belanda

Insiden yang menewaskan pilot Gordon S. Hansen, 59 tahun tersebut meninggalkan teka-teki di dalam benak para investigator. Setelah melakukan penyelidikan di tempat kejadian perkara, tim menemukan adanya potongan balon di sekitar lokasi kejadian. Berdasarkan penemuan tersebut, tim investigator menyimpulkan penyebab kecelakaan adalah karena balon tersebut  terhisap ke dalam baling-baling pesawat yang mengakibatkan mesin mengalami kerusakan. Lebih lanjut, mereka juga menyimpulkan penyebab lain dari kecelakaan itu, yaitu pesawat terbang terlalu rendah.

Tidak hanya itu, ada beberapa kasus lain yang turut membahayakan dunia aviasi akibat adanya singgungan dengan balon, baik balon yang berisikan helium hingga balon jenis Zeppelin. Sedikit bernostalgia ke tahun 2016, tepatnya pada 9 Juli dimana pesawat AirAsia jurusan Yogyakarta – Kualanamu sedang melakukan peningkatan ketinggian (climbing) melalui ketinggian 18.000 kaki. Dilaporkan pesawat dengan nomor penerbangan QZ8075 nyaris bersinggungan dengan dua buah balon udara yang melewati sayap sebelah kiri pesawat dengan jarak hanya sekitar 10 meter. Walaupun membahayakan, kejadian tersebut tidak mengakibatkan pesawat mengalami kecelakaan.

Belum lagi kasus penerbangan balon udara ketika perayaan Idul Fitri 25-26 Juni 2017 kemarin, dimana sejumlah maskapai melayangkan keluhan karena terganggu dengan banyaknya balon yang dilepaskan oleh sejumlah warga di Magelang, Wonosobo, Temanggung, Purbalingga, Kebumen, Purworejo, Cilacap, Banjarnegara, dan Kulonprogo. Adapun sejumlah maskapai yang terganggu penerbangannya akibat balon udara tersebut adalah Wings Air, Batik Air, Garuda Indonesia, Air Asia, Citilink dan Sriwijaya Air.

Baca juga: Jatuh Dari Balon Udara Hingga Tersengat Listrik, Gadis Belia Ini Tetap Selamat

Diwartakan KabarPenumpang.com dari tribunnews.com (28/6/2017), Kapentak Lanud Adisutjipto Mayor Sus Giyanto mengaku sudah tidak aneh dengan laporan maskapai yang merasa terganggu dengan adanya ritual pelepasan balon disejumlah daerah tersebut. “Balon udara tidak bisa ditawar lagi, jelas mengganggu dunia penerbangan, dan ini sangat membahayakan, kalau sampai masuk ke mesin bisa mengorbankan banyak orang,” jelas Mayor Sus Giyanto.

Kejadian tersebut mengundang respon dari Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. Ia mengaku sudah menghimbau warga di daerah terkait, terutama di wilayah Jawa Tengah untuk tidak menerbangkan balon tanpa awak karena akan membahayakan lalu lintas udara. “Membahayakan. Makanya, suka tidak suka, mau tidak mau, tetap tidak boleh. Apalagi, sampai masuk jalur penerbangan. Kalau tidak masuk jalur penerbangan sebenarnya pemerintah tidak apa-apa,” tukas Budi dilansir dari sumber lainnya.