Aturan Berhijab di Bandara Aceh, AirAsia Tampilkan Awak Kabin Pria

AirAsia gunakan awak kabin pria untuk penerbangan ke Aceh

Penerbangan berbiaya rendah AirAsia akan menggunakan awak kabin pria dalam penerbangannya dari dan ke provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Hal ini setelah Bupati Aceh Besar Mawardi Ali mengirimkan surat ke sejumlah maskapai yang beroperasi dan singgah di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Aceh.

Baca juga: Akhir Minggu Ini! Setiap Pramugari di Banda Aceh Wajib Kenakan Jilbab

Dimana isi surat tersebut terkait aturan baru berbusana bagi pramugari dengan imbauan pramugari bergama Islam diwajibkan menggunakan hijab saat tiba di bandara Aceh. Adanya aturan ini agar semua maskapai bisa menghormati syariat Islam yang berlaku di Aceh sesuai UU No.44/1999 tentang penyelenggaraan keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Nanggroe Aceh Darussalam.

AirAsia sendiri diketahui mempekerjakan banyak pramugarinya yang bukan Muslim. Sehingga maskapai tersebut memutuskan untuk melangkah dengan menghadirkan awak kabin pria untuk menghindari masalah.

KabarPenumpang.com mengabarkan dari laman paddleyourownkanoo.com (1/2/2018), bahwa pihak berwenang di Aceh mengatakan, awak kabin yang tidak mematuhi peraturan tersebut akan menghadapi hukuman oleh polisi agama. Sayangnya, tidak ada penjelasan lebih lanjut bagaimana pihak berwenang di Aceh akan membedakan kru kabin wanita Muslim dan non-Muslim.

Pramugari Citilink dan Garuda Indonesia gunakan hijab untuk penerbangan ke Aceh

Juru biacara AirAsia menjelaskan dalam sebuah pernyataan dimana untuk sementara semua penerbangan AirAsia dari dan ke Aceh akan dioperasikan oleh awak kabin pria. Pihaknya juga mengakui peraturan yang diberlakukan oleh otoritas wilayah Aceh.

“Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa operasi kami sesuai dengan itu,” ujar pernyataan tersebut.

Adanya peraturan ini bukan hanya mempengaruhi AirAsia, Garuda Indonesia dan penerbangan berbiaya rendah Malaysia lainnya yakni Firefly yang memiliki rute terbang ke Banda Aceh ibu kota Aceh juga termasuk. Perwakilan Firefly mengatakan, mereka akan mempertimbangkan untuk menambahkan lapisan pakaian ke seragam awak kabin sesuai dengan peraturan tersebut.

Ternyata bukan hanya Aceh yang menerapkan peraturan ketat seperti ini sebab maskapai penerbangan Eropa baru-baru ini memulai kembali layanan Teheran, ibu kota Iran dimana awak kabin wanita diberitahu bahwa mereka harus mengenakan jilbab dan pakaian yang menutupi lengan dan kaki. Peraturan yang diberlakukan oleh Iran tidak sesuai dengan awak kabin Air France, salah satu sumber mengatakan bahwa maskapai tersebut menghadapi pemberontakan dari staf mengenai peraturan tersebut.

Baca juga: Mau ke Aceh dari Jakarta? Sudah Tersedia Direct Flight dari Dua Maskapai

Untuk memenuhi kebutuhan awak kapal, Air France telah mengizinkan pramugari wanita menolak bekerja pada layanan Tehran. Tidak jelas apakah operator tersebut juga mengizinkan awak kabin gay menolak untuk bekerja pada rute tersebut setelah mereka meminta hak istimewa yang sama karena undang-undang kejam Iran tentang homoseksualitas dapat dihukum mati.

Dua anggota parlemen Malaysia baru-baru ini mengkritik seragam yang dikenakan awak kabin AirAsia dan Firefly, dengan mengatakan bahwa mereka terlalu terbuka dan bisa menggugah hasrat penumpang. Mereka meminta perusahaan penerbangan untuk membuat seragam awak kabin wanita mereka sesuai Syariah.