Anthony Fokker – Pria Kelahiran Blitar Yang Jadi Legenda di Dunia Dirgantara

Sumber: blog.klm.com

Mungkin generasi sekarang akan sedikit asing ketika mendengar nama Fokker, padahal Fokker adalah salah satu merek pesawat yang pernah eksis menghiasi dunia aviasi dalam negeri. Mereka akan lebih familiar dengan nama besar seperti Boeing dan Airbus. Pada era 80/90-an, pesawat ini erat kaitannya dengan maskapai Merpati Nusantara, karena pada jamannya, maskapai yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pemerintah ini pernah menggunakan 32 armada Fokker yang terdiri dari 4 jenis, yaitu 3 pesawat Fokker 100, 2 pesawat Fokker F27 Mk500, 22 pesawat Fokker F28 Mk4000, dan 5 pesawat Fokker F27 Mk500F.

Baca Juga: William Boeing, Eks Pengusaha Kayu Yang Bawa Pengaruh Besar di Dunia Aviasi

Serupa dengan Boeing, nama Fokker pun diambil dari penemunya, seorang insinyur Belanda bernama Anthony Herman Gerard Fokker. Pria berkebangasaan Belanda-Amerika ini terlahir di Blitar, Jawa Timur pada 6 April 1890, dimana ayahnya, Herman Fokker Sr merupakan seorang pemilik perkebunan kopi milik Belanda. Ketika menginjak usia 4 tahun, Ia dipulangkan ke Amsterdam,Belanda untuk mengenyam bangku pendidikan yang lebih layak ketimbang di negeri jajahan.

Fokker kecil terkenal amat akrab dengan alam sehingga ia tidak terlalu tertarik dengan dunia pendidikan formal di sekolahan. Hingga pada suatu saat, Ia bersama temannya, Frits Cremer meninggalkan sekolah dan membuat ban anti bocor. Namun sayangnya, paten atas penemuannya tersebut sudah dimiliki oleh seorang berkebangsaan Perancis. Melihat masa kecilnya saja sudah bisa menciptakan suatu inovasi, walaupun sudah didahului oleh orang lain, tidak heran jika orang seperti Fokker di depannya menjadi seorang yang berpengaruh di dunia penerbangan.

Melihat potensi dari anaknya, sang ayah lalu mengirimnya ke Jerman untuk mempelajari bidang otomotif ketika ia menginjak usia 20 tahun. Lagi, Fokker tidak betah mengenyam bangku pendidikan formal dan pindah ke Mainz untuk masuk sekolah mengemudi. Bukannya belajar tentang cara mengemudi, Fokker justru menerima ilmu tentang konstruksi pesawat terbang dan cara menerbangkannya.

Ilmu tersebut menarik perhatiannya dan beberapa murid lain, namun karena fasilitas yang menunjang pembelajaran tentang konstruksi pesawat terbang kurang memadai, maka dari itu Fokker bersama temannya, Franz van Daum memutuskan untuk keluar dari sekolah mengemudi tersebut dan berencana untuk merakit sebuah pesawat terbang sendiri.

Sumber: thefamouspeople.com

Disokong dana oleh orang tuanya dan Franz van Daum, Fokker lalu merancang pesawat pertamanya yang diberi nama Spin. Dalam uji coba pertamanya, Fokker mesti mengigit jari karena pesawat rancangannya yang dikemudikan oleh Franz van Daum menabrak pohon dan hancur berkeping-keping. Tidak lantas patah arang, Fokker kembali merancang ulang Spin dengan menggunakan mesin yang sama dengan rancangan sebelumnya, karena ia menganggap mesin tersebut masih bisa digunakan.

Sayangnya, dewi fortuna belum berpihak kepadanya dan memaksa Fokker kembali menyaksikan sahabat sekaligus penyokong dana proyek tersebut menabrak hingga menghancurkan pesawat rancangannya. Sejak saat itu, Fokker memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi dengan Franz van Daum. Belajar dari kegagalan, Fokker bekerja dan belajar menerbangkan pesawat sendiri. Terbukti, dalam uji coba yang dipraktikan langsung oleh Fokker, ia berhasil terbang secara mulus.

Kabar baik itupun lalu diberitakan kepada orang tuanya dan meminta kepada sang ayah untuk bisa membantunya mengurus perijinan untuk bisa unjuk gigi di acara ulang tahun Ratu Belanda yang diadakan di Haarlem, Belanda. Akhirnya momen yang dinantikan Fokker terjadi pada 1911, dimana ia berhasil mengudara di Amsterdam dan Ia melihat ada peluang bisnis baru di situ.

Setahun berselang, Fokker lalu mendirikan perusahaan dengan fokus menjual pesawat dan memberi pelajaran tentang cara mengudara yang diberi nama Fokker Aeroplanbau. Perusahaan tersebut ia dirikan di Jerman dengan modal yang ia kumpulkan dari ajang Joy Flight ketika Fokker unjuk gigi di Belanda tahun 1911.

Sumber: airliners.net

Fokker mulai kebanjiran order ketika Perang Dunia I pecah, dimana ia menjual kurang lebih 4000 armada. Keuntungan yang ia terima itu belum termasuk sekitar 40 jenis rancangannya yang dibuat oleh pabrik-pabrik pesawat terbang yang lain. Dalam pesawat yang ia rancang untuk militer Jerman tersebut, Fokker menonjolkan mekanisme terminasi yang memungkinkan pilot menembakkan senapan dengan baling-baling pemutar. Ketika digabungkan ke Fokker Eindecker yang terkenal, penggunaan mesin kendali tangkai dorong itu menuju pada fase superioritas udara Jerman yang dikenal sebagai Fokker Scourge.

Sepulangnya Fokker ke Belanda pasca Perang Dunia I, Ia mendirikan N.V. Koninklijke Nederlandse Vlietuigenfabriek Fokker di Amsterdam Utara pada tanggal 21 Juli 1919 yang kini lebih dikenal sebagai Fokker. Ia lalu merancang Fokker F.2, pesawat penumpang pertama, disusul dengan Fokker F.VII yang disinyalir menjadi armada yang cukup laris untuk kelas pesawat penumpang. Fokker F.VII menorehkan tinta emas manakala maskapai raksasa asal Belanda, KLM berhasil menguasai seluruh jangkauan penerbangan di Eropa.

Baca Juga: Fokker F-28, Pernah Menjadi Tulang Punggung Armada Garuda Indonesia

Sayangnya, penyakit pneumococcal meningitis berhasil menghentikan karirnya di dunia aviasi untuk selamanya. Anthony Fokker meninggal dunia di New York, 23 Desember 1939 yang secara otomatis, Ia tidak perlu bersedih karena melihat pabrik pesawatnya diluluh lantakkan pada masa Perang Dunia II. Perusahaan Fokker sendiri dinyatakan bangkrut pada tahun 1996. Selamat Jalan, Cak Fokker!