Akankah Masalah Keamanan Jadi Penghalang Perluasan Hubungan Indonesia – Filipina?

Sumber: flickr

Layanan kapal ferry roll-on roll-off (ro-ro) untuk rute Davao-General Santos (Mindanao) -Bitung (Indonesia) telah ditahan selama beberapa minggu sekarang karena volume kargo yang lebih rendah. Asian Marine Transport Corp. (AMTC), yang mengoperasikan layanan ini, saat ini tengah mempertimbangkan sebuah kapal dengan kapasitas hanya 100 kontainer untuk menggantikan kapal dengan kapasitas 500 kontainer yang digunakan sejak pelayaran perdananya.

Baca Juga: Soal Keselamatan Penumpang, Moda Laut Seperti Dianaktirikan

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman business.mb.com.ph (8/8/2017), layanan mingguan anyar ini merupakan sebuah usaha di bawah naungan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Ro-Ro Project dan Brunei, Indonesia, Malaysia, Philippines-East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA). Layanan yang menghubungkan Mindanao di Filipina dan Sulawesi di Indonesia ini diluncurkan pada 30 April lalu yang diresmikan oleh Presiden Filipina, Rodrigo Duterte dan Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Konsul Jenderal Indonesia Berlian Napitupulu mengatakan pemerintah Indonesia menggandakan usaha yang berkoordinasi dengan sektor bisnis kedua negara untuk memperluas hubungan dan meningkatkan perdagangan. Diketahui, Konsulat Indonesia di Davao baru-baru ini mengakhiri pameran tiga hari yang menampilkan produk dan acara networking Indonesia untuk bisnis kedua belah pihak. Konsulat juga berencana membawa pengusaha Filipina ke Bitung bulan Agustus ini untuk mengeksplorasi peluang kemitraan yang masih tersembunyi.

Lebih lanjut, Berlian mengatakan butuh seorang penengah dalam usaha tersebut. “Harus ada seseorang untuk mengkonsolidasi kargo diantara kedua belah pihak, di Indonesia dan Mindanao,” ujarnya seperti yang tertera di laman sumber. “Saya berharap kedua belah pihak dapat menjalin kerja sama ini, banyak kepentingan kami yang kompatibel,” tambah Berlian.

Departemen Perdagangan dan Industri Filipina sebelumnya mengatakan bahwa rute tersebut akan memberikan akses lebih besar bagi pengusaha lokal, terutama Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), untuk terlibat dalam perdagangan internasional, serta merangsang bidang pembangunan lainnya seperti pariwisata dan lain-lain. Tidak hanya itu, akses yang diberikan oleh Departemen Perdagangan dan Industri Filipina juga meliputi promosi pembentukan jaringan penerbangan langsung, serta peningkatan dari segi aurs investasi. Di sisi lain, produk yang akan turut dipasarkan meliputi makanan, minuman, pakaian, serta barang elektronik.

Baca Juga: Tampomas II, Ingatkan Tragedi di Perairan Masalembo

Rute Davao – General Santos – Bitung merupakan alternatif yang lebih cepat daripada rute Manila – Jakarta – Bitung, yang memakan waktu sekitar tiga sampai lima minggu pengiriman. Sementara pengiriman langsung melalui layanan baru ini hanya akan memakan waktu satu setengah hari berlayar, namun waktu tersebut tidak termasuk masa tinggal di pelabuhan. Pelayaran perdana dimulai dari Kudos Port di Sasa, Davao, kemudian singgah di General Santos International Port sebelum menuju ke pelabuhan akhir di Bitung, Manado, Indonesia.

Lokasi layanan baru ini seolah mengingatkan kita tentang Pulau Miangas, sebuah pulau yang secara geografis terletak di wilayah paling utara dari Indonesia. Secara administratif, pulau yang berjarak 77 Km dari Pulau Mindanao ini merupakan bagian dari kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, provinsi Sulawesi Utara, Indonesia.

Dilansir dari sumber terpisah, pada bulan Mei kemarin, seorang pemerhati masalah perbatasan Sulawesi Utara, Pitres Sombowadile meminta pihak TNI untuk terus siaga terkait dengan kondisi di Kota Marawi, Filipina yang sempat memanas akibat aksi baku tembak antara militer dengan kelompok bersenjata jaringan ISIS. Menurutnya, wilayah perbatasan di sebelah utara Indonesia sangat terbuka. Oleh karena itu, demonstrasi kesiagaan menjadi penting agar bisa mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan tersebut.

Baca Juga: Pulau Miangas, Garda Terdepan Yang Eksotis di Utara Indonesia

Lebih lanjut, antisipasi tersebut sejalan dengan imbauan Kementerian Luar Negeri RI yang meminta semua WNI yang berada di Filipina untuk terus wasapada, meski Marawi bukan tempat konsentrasi WNI di negara itu.