Perusahaan start up asal Belanda, Hardt Hyperloop, belum lama ini mengumumkan hasil penelitian bersama otoritas di Provinsi Belanda Utara terkait eksperimen moda transportasi super cepat hyperloop. Hasilnya, waktu tempuh Paris-Amsterdam sejauh 507,5 km dapat ditempuh hanya 90 menit perjalanan.
Baca juga: Akhirnya, Hyperloop Transportation Technology Luncurkan Pod Penumpang Perdana
Dikutip dari CNN International, 90 menit perjalanan dari Paris-Amsterdam sudah barang tentu jauh lebih cepat dibanding menggunakan mobil (membutuhkan waktu hampir 6 jam), kereta (hampir 3 jam), bahkan nyaris menyamai waktu tempuh dengan menggunakan pesawat direct. Tak hanya Paris-Amsterdam, hasil penelitian juga mengungkap Hyperloop mampu mempersingkat waktu hampir setengah dari perjalanan dengan menggunakan kereta antara Amsterdam-Brussel atau kurang lebih 1 jam perjalanan.
Selain itu, dalam laporan hasil penelitian tersebut juga ditemukan, bila nantinya jaringan hyperloop seluruh Eropa sudah tersedia maka aka nada lebih banyak interaksi antar kota-kota di Eropa. Interaksi tersebut bisa dimaknai banyak hal, seperti traveling, bisnis, budaya, dan manfaat ekonomi lainnya yang luar biasa.
Hyperloop besutan perusahaan asal Belanda itu ditaksir mampu mengangkut 200 ribu penumpang per jam dalam satu relasi perjalanan satu arah dan tentu saja mampu melaju dengan kecepatan hingga 100 kilometer per jam, jauh lebih cepat dibanding kereta cepat Perancis (TGV).
Dengan adanya fakta-fakta penelitian tersebut, setidaknya membuktikan bahwa pencanganan pembangunan jaringan Hyperloop di masa mendatang bukanlah isapan jempol belaka dan progresif. Bahkan, progres yang ditempuh tergolong cepat, setelah Juni tahun lalu memulai langkah besar dengan mendirikan fasilitas pengujian.
Perlombaan untuk menghadirkan moda transportasi darat super cepat tersebut memang belakangan telah terjadi di seluruh dunia. Sejak pertama kali muncul pada 2014 lalu, Hyperloop seolah menjadi ajang unjuk gigi negara-negara dengan reputasi tinggi di bidang teknologi, seperti Jerman, Amerika, Cina, dan negara lainnya. Berbagai negara pun juga tak sabar untuk memulai proyek Hyperloop di negara mereka.
Tahun 2017 lalu tepatnya pada bulan September, Hyperloop Transportation Technologies (HTT) melakukan penandatanganan nota kesepakatan kerja sama dengan negara bagian Andhara Pradesh, India, untuk menghadirkan moda berkecepatan super tersebut untuk menghubungkan dua kota besarnya, Amaravati dan Vijayawada.
Adapun waktu tempuh antara dua kota tersebut kurang lebih sekitar satu jam menggunakan mobil, dan hanya memakan waktu enam menit saja jika menggunakan Hyperloop. Pihak HTT akan memulai studi kelayakan selama enam bulan terhitung sejak Oktober mendatang. Tidak hanya studi kelayakan, HTT juga sembari menentukan jalur pemasangan tabung yang cocok di antara dua kota tersebut. Jika tidak menemukan hambatan, pihak HTT mengaku siap untuk memulai pembangunan.
Di Timur Tengah, Virgin Hyperloop One, salah satu perusahaan Hyperloop asal Amerika, juga telah menandatangani kontrak kerja sama dengan beberapa pihak terkait pengadaan Hyperloop yang menghubungkan Dubai dan Abu Dhabi. Tidak hanya itu, Virgin Hyperloop One juga memaparkan gambaran jaringan yang menghubungkan kota-kota di hampir seluruh wilayah Timur Tengah, termasuk Kuwait City di Kuwait, Jeddah di Arab Saudi dan Muscat di Oman.
Di Australia, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengajukan rencana untuk pembangunan jaringan kereta cepat di negara berjuluk Negeri Kangguru tersebut. Pengadaan jaringan kereta cepat ini, menurut Scott, merupakan satu dari serangkaian rencananya untuk mengentaskan kemacetan di Australia.
Selain itu, visi strategis lain dari pengadaan kereta cepat ini adalah untuk memangkas waktu perjalanan antar negara, dimana diperkirakan para komuter bisa pergi dari Sydney menuju Brisbane (maupun sebaliknya) hanya dalam waktu setengah jam saja.
Baca juga: Setelah Dubai, Giliran Cina Hadirkan Moda Maglev dari Hyperloop Transportation Technology
Di Cina, salah satu perusahaan pengusung ide transportasi ini, Hyperloop Transportation Technology (HTT) telah menandatangani kontrak kerja sama dengan Tongren Transport, Tourism and Investment Group milik Pemerintah Cina untuk membangun lintasan Hyperloop yang menghubungkan pusat kota dengan Tongren Fenghuang Airport, Guizhou, Cina. Adapun kontrak kerja sama ini bernilai $295 juta atau yang setara dengan Rp 4,3 tiliun.
Hyperloop sendiri adalah pod yang mampu melaju dengan kecepatan tinggi dalam terowongan. Hyperloop, yang pertama kali dibayangkan oleh Elon Musk, pendiri Tesla, pada 2013, digambarkan mampu memindahkan manusia maupun kargo dengan kecepatan 1.000 kilometer per jam, menggunakan tabung bertekanan rendah yang hampir tidak bergesekan dengan lintasan. Chris Dulake, konsultan Mott MacDonald, sebuah perusahaan yang bekerja di Terminal 5 Bandara Bawah Tanah London dan Bandara Heathrow memperkirakan, Hyperloop pertama baru mulai mendapatkan sertifikasi pada 2030 mendatang.