Kekhawatiran masyarakat terhadap wabah virus corona terjadi dimana-mana. Di dalam negeri Cina sendiri, tak terhitung banyaknya warga yang menolak kedatangan orang-orang dari Wuhan, kota yang diduga menjadi tempat pertama kali virus corona menyebar. Di berbagai belahan dunia lainnya, kejadian sejenis juga banyak terjadi.
Akibatnya, kekhawatiran berlebih tersebut menjadi momok tersendiri bagi perekonomian Cina, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Selain pukulan dari luar dengan adanya travel advice ke Cina dari banyak negara, pukulan telak juga datang dari dalam negeri dengan semakin banyaknya kota-kota yang warganya terinfeksi. Bahkan, keputusan pemerintah Cina untuk mengisolasi juga turut menyumbang anjloknya perekonomian Negeri Tirai Bambu itu.
Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, berhentinya layanan transportasi udara, laut, dan darat, kekhwatiran dunia internasional, dan isolasi yang dilakukan, telah menyebabkan perjalanan hingga hari pertama Imlek kemarin anjlok 28,8 persen. Adapun rinciannya, perjalanan udara turun 41,6 persen, kereta turun 41,5 persen, dan darat turun 25 persen.
Dalam bidang perdagangan pun juga terkena imbas yang parah. Banyak pengamat yang berpendapat bahwa perekonomian Cina akan mengalami penurunan hingga di angka 6 persen. Hal itu tentu sangat wajar bila melihat dari berbagai reaksi mitra dagang China.
Yang terbaru, seperti dikutip dari maritimebulletin.ne, Rabu, (29/1), Jepang memutuskan untuk menghentikan sementara jalur ferry antara Jepang dan China, yang menghubungkan Kobe, Osaka, dan Shanghai sejak 1985. Jalur tersebut ditangguhkan sampai waktu yang tak ditentukan, mengingat virus corona masih terus menghantui masyarakat dunia, tak terkecuali di dalam jalur perdagangan tersebut. Jepang berdalih, bila jalur perdangan terus aktif, maka akan sangat membahayakan seluruh pelaku bisnis, khususnya para petugas di lapangan.
Wabah virus corona sendiri, hingga kini sedikitnya telah menewaskan 130 orang di Cina dan membuat hampir 6.000 orang terinfeksi di seluruh dunia. Krisis akibat wabah yang semakin intensif tersebut juga telah memaksa pihak berwenang mengkarantina setidaknya 56 juta orang yang tinggal di Provinsi Hubei, China tengah, termasuk Wuhan, dan membatalkan perayaan Tahun Baru Imlek di seluruh negeri.