Moda transportasi berbasis massal, TransJakarta merupakan jaringan Bus Rapid Transit (BRT) terpanjang di dunia dengan total panjang 251 km. Dengan melayani sekira 663.000 penumpang setiap harinya, dan terhitung sejak Januari 2019 kemarin, perusahaan yang kini ditunggangi oleh Agung Wicaksono (ex Direktur Operasi dan Pemeliharaan MRT Jakarta) cs. ini tercatat memiliki 155 rute – peningkatan yang cukup signifikan dibanding 41 rute di tahun 2015 kemarin.
Baca Juga: 15 Tahun Beroperasi, TransJakarta Targetkan 236 Rute di Akhir Tahun 2019
Tidak jumlah rute saja yang meningkat, pun dengan jumlah armada yang juga mengalam peningkatan. Berdasarkan siaran pers yang diterima oleh KabarPenumpang.com, Rabu (28/2/2019), total armada TransJakarta mengalami peningkatan hampir 300 persen – dari 605 bus di tahun 2015 menjadi 1.500 bus di tahun 2017. Bahkan, PT Transportasi Jakarta siap untuk menggandakan jumlah armadanya menjadi 3.000 unit dalam waktu dekat ini.
Mematok tarif yang bersahabat dengan warga Jakarta, yaitu Rp3.500 per-penumpang, TransJakarta sempat mencatatkan rekor di tahun 2018 kemarin, dimana jaringan BRT pertama di Asia Tenggara dan Selatan ini berhasil mengangkut 730.000 penumpang per-hari. Angka ini juga mengalami peningkatan dari angka 331.000 penumpang per-harinya di tahun 2015. Sekitar 189,8 juta penumpang telah menggunakan layanan TransJakarta hanya di tahun 2018 saja, dan bukan tidak mungkin jika TransJakarta menargetkan angka yang lebih fantastis lagi di tahun berikutnya – satu juta penumpang setiap harinya.
Keikutsertaan TransJakarta dalam pagelaran Busworld yang dihelat pada tanggal 20 hingga 22 Maret 2019 mendatang tentu mendapat sambutan hangat dari panitia pelaksana.
Sejak diputuskan untuk mulai beroperasi di jalanan Ibukota sejak 15 Januari 2004 silam, TransJakarta seolah tumbuh menjadi opsi berkendara baru bagi warga Jakarta dan para pendatang – membawa budaya baru dalam berkendara. Baik untuk pembuat kebijakan maupun untuk penduduk kota, TransJakarta merupakan salah satu instrumen pembelajaran dalam menyambut mobilitas perkotaan yang berkelanjutan.
15 tahun sudah TransJakarta menjadi simbol pembaruan transportasi berbasis massal yang skalanya tidak hanya sebatas di Jakarta saja, melainkan seluruh Indonesia. Menerapkan sistem yang lebih ‘manusiawi’ bagi para penggunanya, TransJakarta pun seolah menjelma menjadi satu contoh dan bahan pembelajaran tentang bagaimana caranya menyediakan sarana transportasi umum bagi warga dengan harga yang terjangkau dan dibarengi dengan pelayanan yang profesional.
Tidak hanya berperan sebagai pencetus sistem BRT di kawasan Asia Tenggara dan Selatan, TransJakarta juga dijadikan tolak ukur sistem serupa oleh beberapa kota lain di Indonesia, seperti Semarang, Yogyakarta, hingga Medan. Sejak kemunculannya, istilah ‘kejar setoran’ yang kerap dilakukan oleh para pengemudi bus guna mendapat penghasilan yang lebih besar kini sudah semakin samar terdengar – walaupun belum sepenuhnya hilang.