Sunday, April 6, 2025
HomeAnalisa AngkutanTiket Pesawat Naik Sehari Setelah "Travel Bubble" Singapura-Hong Kong Diumumkan

Tiket Pesawat Naik Sehari Setelah “Travel Bubble” Singapura-Hong Kong Diumumkan

Tiket pesawat antara Singapura dan Hong Kong melonjak cukup siginifikan mulai Jumat, 16 Oktober lalu atau sehari setelah rencana travel bubble antara kedua negara tersebut ramai diperbincangkan. Sebelum travel bubble diumumkan, harga tiket pesawat kelas ekonomi PP berkisar $400.

Baca juga: Dear Traveller, Singapore Airlines Geluti Tiga Bisnis Baru Loh! Ada Makan Siang Mewah di Pesawat A380

Usai rencana travel bubble diumumkan, tiket penerbangan hingga akhir Desember naik menjadi sekitar $558. Harga tersebut bukan tak mungkin akan terus-menerus naik sampai travel bubble benar-benar berlaku dan mendorong orang-orang secara massif untuk bepergian.

Dengan diterapkannya travel bubble ini, nantinya wisatawan antar kedua negara itu tak perlu lagi karantina mandiri selama 14 hari selama tes Covid-19 mereka negatif.

Oleh karenanya, butuh kerjasama apik antar otoritas kedua negara mengingat sedikit saja kesalahan bisa berakibat pada meningkatnya angka kasus positif virus Corona di kedua negara. Saat ini wacana travel bubble Singapura-Hong Kong masih dalam pembahasan dan belum diungkap dengan jelas apa dan bagaimana travel bubble antar kedua negara itu.

“Ini benar-benar pertanda baik. Tetapi kami membutuhkan lebih banyak kejelasan tentang bagaimana (perjalanan) akan dilakukan dengan cara yang aman sebelum kami dapat memahami potensi dampak bisnis pada agen perjalanan,” kata Presiden National Association of Travel Agents Singapore ( Natas), Steven Ler.

“Jadi kami harus menunggu dan melihat. Banyak orang yang terburu-buru untuk mengambil slot penerbangan terlebih dahulu tapi kami juga melihat banyak yang bertanya kepada kami (agen perjalanan) tentang bagaimana mengatur perjalanan mereka,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari The Straits Times.

Ms Alicia Seah, direktur humas Dynasty Travel, mencatat bahwa kolaborasi dengan maskapai penerbangan, kementerian pariwisata, dan ekosistem pendukung seperti tempat-tempat hiburan juga berperan sangat penting ketika wisatawan diizinkan bepergian kembali.

“Kami masih menunggu kejelasan tanggal launchingnya, (tetapi) kami sekarang sedang mengerjakan (paket) kompetitif tiket pesawat, akomodasi, dan berbagai tema-tema hiburan,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Transportasi Singapura, Ong Ye Kung mengatakan pada Kamis lalu bahwa travel bubble kemungkinan bakal mulai dihelat pada pekan depan. Hanya saja, saat itu, ia masih mengisyaratkan bahwa wisawatan masih harus melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

Sejak pandemi corona membatasi setiap perjalanan, termasuk menutup perbatasan antar negara, banyak orang kesulitan untuk menemui orang terkasih; tak terkecuali Anderson Neo. Ia yang tinggal di Singapura, sudah sejak Januari silam tak bertemu secara langsung dengan sang kekasih yang berada di Hong Kong. Hanya saja, bila travel bubble resmi kick off, guru berusia 27 tahun ini tetap akan melilhat tingkat keamananya mengingat travel bubble pasti bakal mengundang banyak orang bepergian.

“Ini cukup sulit sejak kami baru saja jumpa tahun lalu, dan ini adalah waktu terpanjang kami berpisah. Jadi melegakan (mendengar tentang travel bubble) karena kami tidak yakin apakah kami dapat bertemu satu sama lain secara langsung sebelum 2021,” ujarnya.

Baca juga: Tak Punya Penerbangan Domestik, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Ditaksir Bakal Lebih Lama Pulih

“Namun terlepas dari harganya, saya pikir kekhawatiran utama adalah jika travel bubble resmi dimulai. Melihat serbuan orang saat ini memesan tiket, kami sedikit skeptis jika travel bubble tersebut dapat tetap bebas Covid-19, terutama jika ada orang dengan penyakit ringan yang memaksa bepergian dan memesan tiker penerbangan agar bisa bepergian,” tambahnya.

Sebagai informasi, travel bubble adalah pembukaan zona batas lintas negara yang memungkinkan warganya bepergian asal tidak melampaui area, kota, atau destinasi yang sudah ditetapkan. Indonesia awalnya juga sempat ingin menerapkan travel bubble. Namun, hingga kini masih belum terealisasi karena satu dan lain hal.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru