Lockheed L-1011 TriStar boleh saja gagal bersinar di awal kemunculan pada dekade 70an sampai beberapa waktu lamanya. Namun, bukan berarti semuanya meredup. Memasuki tahun 90-an, pesawat trijet yang nyaris membuat Lockheed bangkrut itu pun mendadak jadi pusat perhatian setelah Orbital Sciences Corporation, sebuah perusahaan antariksa, menyulap dan menjadikannya sebagai kendaraan peluncur satelit (satellite launch vehicle atau SLV).
Baca juga: Lockheed L-1011 TriStar, Pesawat dengan Kecanggihan Selangit yang Bikin Lockheed Nyaris Bangkrut
Dilansir Simple Flying, Lockheed L-1011 TriStar sebetulnya bisa dibilang bintang dari pesawat trijet. Hal itu tercermin dari berbagai teknologi canggih yang disematkan, sebagai jurang pemisah dengan pesawat trijet lainnya, terutama Douglas DC-10. Saking canggihnya, bahkan, Lockheed L-1011 TriStar disebut terlalu canggih untuk digunakan di zaman itu.
Bagaimana tidak, selain lebih efisien dan menampung penumpang lebih banyak, pesawat dengan panjang 54 meter ini juga sudah disematkan sistem avionik canggih AFCS (Avionic Flight Control system), mencakup autopilot, kontrol kecepatan, sistem kontrol penerbangan, sistem navigasi, sistem stabilitas, dan direct lift control system.
Yang paling spesial dari AFCS pesawat itu tentu sistem CAT-IIIB Autoland. Salah satu fitur penjualan utama Lockheed ini diklaim mampu mendaratkan pesawat secara otomatis, bahkan dalam kondisi cuaca buruk sekalipun. Teknologi yang mungkin masih cukup canggih untuk ukuran saat ini.
Meski canggih, faktanya dari target 500 penjualan pesawat hanya terjual kurang dari setengahnya. Salah satu customer terbesar ialah Air Canada, dengan total lebih dari 40 unit. Dari jumlah tersebut, satu pesawat terdaftar (diregistrasi) sebagai C-FTNJ. Awalnya, pesawat ini biasa-biasa saja, melayani penerbangan penumpang dan kargo antara 1974 dan 1992.

Ketika pesawat dirasa sudah usang dan Air Canada mulai mempertimbangkannya untuk pensiun, barulah Orbital Sciences Corporation of Mojave, California, menyelamatkannya. Pesawat kemudian diregistrasi ulang di Amerika Serikat (AS) sebagai N140SC dan diberi nama Stargazer, terinspirasi dari Star Trek.
Selain mengenakan livery baru, Lockheed L-1011 TriStar The Stargazer juga menjalani tugas baru sebagai kendaraan peluncur satelit di udara. Untuk tugas itu, pesawat pun dilengkapi dengan peralatan khusus di bawah perut. Alat tersebut memungkinkan The Stargazer membawa roket yang memuat satelit.
What the heck is @northropgrumman’s rocket launching L-1011 aka Stargazer doing out this morning? Took off from Edwards, now out over the pacific. @NASASpaceflight pic.twitter.com/4SWImYI4nY
— Jack Beyer (@thejackbeyer) August 12, 2020
Menurut laman Travel Update yang dikutip Simple Flying, The Stargazer dapat mengangkut 23.000 kilogram muatan (roket) hingga di ketinggian 12.800 meter. Setelah itu, roket Pegasus diluncurkan dari udara menuju luar angkasa untuk menempatkan satelit ke orbit rendah bumi. Cara ini dinilai lebih efisien ketimbang meluncurkan roket dari darat.
Wahana peluncur roket di udara itu kemudian berganti nama menjadi Northrop Grumman Stargazer setelah Orbital Sciences Corporation diakuisisi oleh Northrop Grumman.
Hingga Oktober 2019, tercatat Northrop Grumman Stargazer berhasil meluncurkan 44 roket di udara, dengan 39 di antaranya berjalan mulus.
Meskipun pandemi virus Corona sempat digadang bakal mematikan pesawat itu, nyatanya, pesawat tengah disimpan apik di Gurun Mojave. Tak jelas apa yang dilakukan pesawat itu di sana.