Kecurangan atau fraud merupakan fenomena yang terjadi di industri berbagi tumpangan atau ride hailing di Indonesia. Salah satunya adalah order fiktif yang dilakukan demi mendapatkan bonus dari perusahaan transportasi.
Baca juga: GoJek Kalah Saing, Grab Maju Selangkah Hadirkan Fitur Asuransi
KabarPenumpang.com melansir dari laman scmp.com, selain fraud dengan order fiktif adapula dengan Fake GPS atau GPS palsu yang digunakaan untuk mencurangi lokasi di Global Positioning System (GPS). Kedua hal inilah yang mendasari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dan firma riset Spire Research and Consulting melakukan riset terkait fraud tersebut.
Sebanyak 61 persen pengemudi yang mengendarai kendaraan roda dua dan roda empat mengetahui pengemudi lainnya melakukan penipuan. Tak hanya itu lebih dari 80 persen pengemudi mendapatkan pesanan palsu setiap minggu dan satu dari tiga pengemudi melihatnya setiap hari.
Menurut Grab, di Asia Tenggara sendiri sebanyak 20 persennya adalah order fiktif. Berly Martawardaya, Direktur Program INDEF mengatakan, pengemudi melakukan penipuan karena tidak takut ketahuan dan bisa mendapatkan bonus tanpa harus bekerja.
“Sistem deteksi perusahaan masih lemah sehingga banyak pengemudi yang berpikir itu aman bagi mereka bila melakukan fraud karena hanya beberapa dari mereka yang ketahuan,” ujar Berly.
Apalagi di Indonesia menjadi medan persaingan antar dua ride hailing yakni Grab dan GoJek setelah Uber menarik diri dari Indonesia. Kompetisi keduanya bahkan termasuk ke ranah promosi dan pembayaran bonus.

Untuk melawan tren ini, Grab dan GoJek memperbarui alat anti penipuan mereka dalam beberapa bulan terakhir. Kampanye ini juga dipantau secara ketat oleh investor sebagai cara untuk mengukur, antara lain, nilai perusahaan, sumber dalam industri mengatakan. GoJek, khususnya, harus menunjukkan bahwa ia dapat mengatasi penipuan di pasar dalam negeri Indonesia sebelum berekspansi ke negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Perusahaan dengan senilai US$5 miliar ini, telah menyisihkan US$500 juta untuk ekspansi ke Singapura, Vietnam, Thailand dan Filipina. Survei INDEF menunjukkan bahwa 42 persen pengemudi mengatakan GoJek memiliki penipuan terbanyak, dibandingkan dengan Grab yang 28 persen.
Selain dari aplikasi GPS, pengemudi Indonesia sering membuat akun pengemudi dan pengendara palsu, atau membeli satu di banyak kios komputer di mal Jakarta, dijual dengan harga hingga satu juta rupiah. Hal ini memungkinkan mereka untuk membuat pemesanan perjalanan sendiri dan berpura-pura menyelesaikan perjalanan untuk mencapai tanda insentif.
Metode lain disebut “default tunai”, di mana pengemudi menggunakan akun palsu dan hanya menerima wahana dari penumpang yang membayar tunai. Untuk penipu yang mengerti teknologi, mereka akan menggunakan versi tidak resmi dari aplikasi dan telepon yang dimodifikasi yang memungkinkan mereka untuk memotong deteksi lokasi root dan me-reject, serta untuk membatalkan perjalanan tanpa konsekuensi. Di web yang gelap, ada setidaknya 1300 versi aplikasi GoJek tidak resmi untuk Android, dibandingkan dengan tiga dari Grab.
Grab dan GoJek baru-baru ini memperkuat kampanye anti-penipuan dan alat deteksi mereka untuk melawan wahana phantom, khususnya di Indonesia dimana kecurangan lebih menonjol. Grab memperkenalkan program whistle-blower yang disebut “Fairplay” yang telah menghasilkan 9000 tips dan menghasilkan sepuluh buah sindikat ilegal di seluruh Indonesia.
Program itu, telah menyebabkan pengurangan penipuan sebesar 80 persen dalam 12 bulan terakhir. Adapun GoJek, pada bulan April 2018 meluncurkan alat deteksi yang akan memperingatkan pengemudi melalui notifikasi pop-up jika mereka menggunakan aplikasi GPS palsu.
Baca juga: Meski Difabel, Bukan Halangan Bagi Wanita ini Menjadi Pengantar GrabFood
“Hingga Juni kami telah memberi sanksi kepada ratusan ribu pengemudi dan pelanggan yang terlibat dalam menempatkan pesanan palsu. Sistem kami mendeteksi bahwa lebih dari 80 persen wahana phantom terkonsentrasi di area dan jam tertentu, membuat kami percaya bahwa ini dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab yang misinya adalah membawa wahana palsu ke platform GoJek,” kata Michael Say, wakil presiden komunikasi perusahaan di Go-Jek.