Lagi dan lagi, sepinya penumpang pesawat memaksa perusahaan mengubah pesawat menjadi angkutan kargo. Rabu lalu, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) mengeluarkan sertifikasi untuk konfigurasi ulang pesawat penumpang Boeing 737-700 menjadi pesawat atau angkutan kargo.
Baca juga: Kabin Penumpang Penuh Kargo Bikin Pilot ‘Nambah Kerjaan’
Dikabarkan, pesawat yang dikonfigurasi ulang oleh Pemco Conversions itu sudah mendapatkan pelanggan pertama di Bahrain, yakni Chisholm Enterprises dan akan dioperasikan oleh anak perusahaan mereka, Texel Air.
Dari data Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.
Berkaca dari agka-angka tersebut, tentu sangat wajar bila banyak perusahaan penerbangan ataupun lessor mengkonfigurasi ulang pesawat penumpang menjadi pesawat kargo. Menariknya, disaat yang bersamaan, kebutuhan dunia akan peralatan dan perlengkapan kesehatan seperti masker, face shield, dan lain sebagainya juga membuat kebutuhan pesawat kargo meningkat.

Hal itu setidaknya bisa dilihat dari penjualan duopoli produsen pesawat di dunia, Boeing dan Airbus. Di bulan Juni lalu, keduanya sama sekali tak mencetak pesanan baru untuk pesawat penumpang. Sebaliknya, Boeing malah mendapat pesanan satu pesawat kargo dari raksasa jasa pengiriman asal AS, FedEx.
Namun demikian, sekalipun angkutan kargo menjadi lebih populer di wabah Covid-19 seperti sekarang ini, dalam kasus konfigurasi ulang Boeing 737-700 yang belum lama ini disetujui FAA, Air Transport Service Group (ATSG), selaku lessor sekaligus perusahaan angkuta kargo sebagai pemilik, tetap menyisakan empat bari kursi dalam konfigurasi 3-3 di bagian belakang. Dalam penerbangan, istilah tersebut dikenal sebagai Passenger-to-FlexCombi.
Pesawat ini nantinya akan ditawarkan dalam tiga skema konfigurasi. Konfigurasi pertama, menawarkan payload atau muatan sebanyak 13,7 ton dengan enam posisi palet. Konfigurasi kedua, menawarkan 15,8 ton muatan dengan tujuh palet. Adapun terakhir, versi full full-freighter pesawat ditawarkan menampung 18,2 ton muatan. Masing-masing konfigurasi tersebut tetap menawarkan kabin penumpang dengan kapasitas 12 dan 24.
Baca juga: Tak Ingin Meratapi Nasib, Hi Fly Ubah Airbus A380 Jadi ‘Varian’ Kargo Pertama di Dunia
“Untuk mencapai momen ini dalam pengembangan program konversi 737-700 penumpang-ke-barang kami memperkuat kehadiran kami sebagai pemimpin global di pasar,” Mike Andrews, direktur program konversi PEMCO, sebagaimana dilansir Simple Flying.
“Kami senang dengan kinerja tim konversi kargo kami dan terus mengembangkan produk-produk inovatif untuk memenuhi peningkatan permintaan pelanggan untuk konversi 737,” lanjutnya. Setelah sukses mendapat sertifikasi dari FAA, ATSG bergerak cepat untuk mendapatkan sertifikasi dari Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) dan Administrasi Penerbangan Sipil Cina.