Setiap tahun, International Air Transport Association (IATA) mensurvei sekitar 10 ribu penumpang untuk memberikan input ke maskapai dan bandara untuk pengalaman yang lebih baik. Tahun ini hasil survei mengungkapkan bahwa penumpang menginginkan teknologi biometrik di bandara agar lebih cepat tanpa proses pemeriksaan panjang dan melelahkan.
Tahun ini, survei Global Passenger Survey (GPS melibatkan 10.206 responden dari 222 negara. Survei mencakup seluruh rangkaian penerbangan, mulai dari memesan tiket sampai keluar dari bandara tujuan.
Hasil survei menunjukkan, 80 persen dari responden mengaku sangat puas atau agak puas dengan pengalaman terbangnya. Tingkat kepuasan tertinggi penumpang 84 persennya datang dari kemudahan memesan tiket pesawat. Adapun 64 persen responden mengaku puas terhadap proses imigrasi bandara. Ini menjadi persentase terendah di antara rangkaian proses penerbangan lainnya.
Bila dirinci lebih jauh, ada tiga tahapan yang membuat penumpang tidak puas. Tiga itu saat transfer atau transit dengan tingkat kepuasan 68 persen, border control 69 persen, dan imgirasi serta pengambilan bagasi di baggage carousel 69 persen.
Solusi dari itu, penumpang menginginkan penggunaan teknologi biometrik yang lebih massif di bandara agar proses pemeriksaan lebih cepat dan penumpang bisa segera melanjutkan aktivitas mereka. IATA meyakinkan bahwa teknologi yang ada saat ini sangat mendukung kemudahan tersebut.
“Mereka ingin tiba di bandara siap terbang, melewati bandara di kedua ujung perjalanan mereka dengan lebih cepat menggunakan biometrik dan mengetahui di mana bagasi mereka setiap saat. Teknologi ada untuk mendukung pengalaman ideal ini,” jelas Senior Vice President for Operations IATA, Nick Careen, seperti dikutip dari Simple Flying.
Sembiland dari 10 penumpang atau 88 persen dari total responden mengaku puas dengan teknologi biometrik yang sudah ada di beberapa bandara di dunia. 75 persen responden juga mengungkapkan lebih suka teknologi biometrik daripada paspor dan turunannya yang rumit dan lambat.
Meski begitu, penumpang tetap menaruh kekhawatiran terhadap teknologi biometrik atas penyimpanan data tersebut dari potensi penyalahgunaan.
Baca juga: Vision-Box Hadirkan Teknologi Identitas Digital dengan Biometrik Canggih di Bandara
Hasil survei GPS IATA juga mengungkapkan masih tingginya kasus bagasi tertukar mencapai 40 persen dari responden. 20 persen lainnya juga mengaku tidak puas dengan baggage handling di bandara. Karenanya, mayoritas dari responden sudah atau akan menggunakan aplikasi atau alat pelacak bagasi (baggage tracker) semisal Apple AirTag untuk memantau pergerakan bagasi mereka secara real time.
Dalam survei tersebut juga terungkap ada sekitar 42 persen penumpang yang menghabiskan satu sampai dua jam di bandara sebelum masuk ke kabin. 25 persen lainnya menghabiskan waktu antara dua hingga tiga jam. Ini dianggap terlalu banyak waktu yang terbuang.