Seperti diketahui, Airbus telah menghentikan produksi super-jumbo jet rakitannya, A380 pada awal tahun 2019 ini. Sebelumnya, raksasa manufaktur asal Benua Biru ini mendapatkan pembatalan pesanan dari sejumlah maskapai yang telah atau hendak menggunakan armada wide-body ini – mulai dari Qantas, Singapore Airlines, Etihad hingga pengguna terbesarnya, Emirates. Diprediksi, Airbus A380 terakhir diharapkan meninggalkan jalur perakitan pada tahun 2021 mendatang.
Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah Fenomenal
KabarPenumpang.com melansir dari laman simpleflying.com (4/3/2019), flag carrier Singapore Airlines bahkan sudah terlebih dahulu ‘mengandangkan’ A380 ketika sejumlah maskapai lain di luar sana masih menunggu kehadiran dari armada yang pertama kali mengudara pada tanggal 27 April 2005 ini. Sementara itu, kebijakan lain ditempuh oleh British Airways dimana maskapai ini malah berencana untuk membeli A380 bekas untuk menggantikan unit Boeing 747 yang sudah ‘lapuk’ termakan usia.
Lain cerita dengan Qatar yang mengumumkan bahwa mereka akan mulai mempensiunkan 10 unit armada A380-nya kelak ketika menyentuh angka 10 tahun pengoperasiannya – yaitu di tahun 2024 mendatang. Lalu Air France akan mempensiunkan setengah dari 10 armada A380 di akhir tahun 2019 ini, sementara 5 sisanya akan di upgrade dan dilepas di tahun 2020.
Dari beberapa contoh di atas, ini menandakan bahwa kendati sebagian maskapai lebih memilih untuk mengandangkan A380 mereka, namun masih ada permintaan terhadap A380 dari maskapai lain.
Jadi, kalau di luar sana ada pertanyaan, “kapan Airbus A380 benar-benar pensiun dari dunia kedirgantaraan global? Seyogyanya tidak ada jawaban yang benar-benar presisi untuk menjawab pertanyaan tersebut, karena semua ini bergantung dari masing-masing maskapai yang mengoperasikannya. Mengingat mereka memegang kendali penuh terhadap setiap armadanya – termasuk A380. Lepas dari itu, pasokan suku cadang pun masih tetap diproduksi oleh pihak Airbus.
Baca Juga: A380 ‘Terancam Punah,’ Benarkah Airbus Salah Langkah Hadapi Kedigdayaan Boeing?
Namun jika dilihat lagi dari segi penggunaan bahan bakar yang tidak sedikit dari A380 dimana ini akan berimplikasi langsung pada pembengkakkan biaya operasional, juga dari suku cadang yang kelak akan semakin sulit dicari, maka dua faktor ini sudah lebih dari cukup untuk mempensiunkan Airbus A380 lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.