Maskapai asal Ceko, Smartwings, sukses mendaratkan Boeing 737 MAX pertama di Antartika pada 26 Januari lalu. Pesawat yang dicharter oleh Aircontact itu mendarat di Troll Airfield atau di tepi Benua Antartika, wilayah yang paling dekat dengan Afrika bagian Selatan, membawa peneliti Norwegian Polar Institute menuju basis penelitian mereka di Antartika.
Baca juga: Hi Fly Sukses Daratkan Pesawat Airbus A340 Pertama di Benua Antartika, Bawa Misi Sekali Seumur Hidup
Troll Airfield atau Lapangan Terbang Troll dioperasikan oleh Norwegian Polar Institute. Landasan pacu di lapangan terbang ini sepanjang 3.000 m yang terletak di gletser di ketinggian 1.232 m.
Sebagai informasi, Benua Antartika cukup besar, mencapai 14,2 juta km persegi, jauh lebih luas dari Benua Australia sebesar 8,6 juta km persegi. Benuar Antartika adalah satu-satunya tempat di Bumi yang tidak dimiliki siapapun atau negara manapun. Juga, tidak pernah memiliki sejarah dimiliki penduduk asli.
Berdasarkan perjanjian Antartika, tanah dan sumber daya yang ada hanya boleh digunakan untuk tujuan perdamaian dan ilmiah. Terdapat lebih 60 pusat sains di Antartika yang didirikan 27 negara. Salah satunya Norwegia.
Norwegia adalah salah satu negara yang mengoperasikan lapangan terbang di Antartika. Negara Nordik itu juga diketahui mengoperasikan glacial blue ice runway di Queen Maud Land, Antartika.
Selain lapangan terbang yang dioperasikan oleh Norwegia, ada beberapa lapangan terbang lainnya di Antartika, untuk memudahkan para peneliti mencapai titik yang ingin dituju, salah satunya Pangkalan Udara Novolazarevskaya (Novo) yang dioperasikan oleh Rusia.
Boeing 737 MAX pertama yg sukses mendarat di Antartika pic.twitter.com/ALrfzbW1Hm
— KabarPenumpang.com (@kabarpenumpang) January 28, 2022
Dilansir Flight Global, pendaratan Boeing 737 MAX pertama di Antartika dicapai dengan dua kali transit. Mula-mula, pesawat terbang dari Oslo, Norwegia, dan berhenti transit di kota N’Djamena, Chad, lanjut ke Cape Town, Afrika Selatan, sebelum melanjutkan penerbangan sekitar lima jam ke Troll Airfield.
Seperti pesawat-pesawat sebelumnya yang mendarat di Bandara atau Lapangan Terbang Antartika, sebelum landing, sebuah mobil survei terlebih dahulu mengecek kondisi runway semata untuk memberi informasi kondisi tentang apapun yang dibutuhkan pilot untuk mensukseskan pendaratan.
“Permukaan (landasan pacu) secara khusus disiapkan, dan saat pengereman diukur oleh Norwegian Polar Institute sebelum operasi,” kata kapten dan direktur penerbangan Smartwings, Tomas Nevole.
Maskapai tersebut mengungkapkan, pendaratan di Troll Airfield, Antartika, tidaklah mudah. Karenanya, kokpit Boeing 737 MAX Smartwings diisi oleh tiga kapten pilot berpengalaman, untuk memuluskan pendaratan dengan tetap berkomunikasi terkait cuaca melalui datalink dan komunikasi telepon satelit.
Selain itu, tak seperti pendaratan di bandara atau pendaratan di gurun sekalipun, pendaratan di landasan pacu es di Antartika membutuhkan persiapan cukup lama, termasuk harus mendapatkan persetujuan dari otoritas penerbangan Ceko.
Baca juga: Antartika Punya Penerbangan Domestik, Siapa Penumpangnya?
“Persiapannya memakan waktu berbulan-bulan, dan (beruntung) penerbangan serta pendaratan berjalan lancar,” jelas Nevole.
Usai mendarat, pesawat sempat parkir selama dua jam di apron Troll Airfield sebelum lepas landas untuk penerbangan pulang.