Sejak pertama kali terbang perdana pada 5 Desember 2009, Boeing 787 Dreamliner berhasil melesat dengan lebih dari 800 pesawat yang melayani berbagai maskapai di seluruh dunia. Tak hanya itu, Dreamliner juga telah tumbuh menjadi salah satu terlaris Boeing dengan lebih dari 1.400 pesanan.
Baca juga: Musibah Virus Corona Justru Selamatkan Boeing 787 dan Rolls-Royce
Selain itu, Dreamliner juga berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah penerbangan, sebagai pesawat dengan pesanan terbesar untuk pesawat jet penumpang baru, setelah pada tahun 2004 All Nippon Airways Jepang memesan US$6 miliar untuk 50 pesawat baru.
Dilansir dari laman businessinsider.com, Senin, (2/3), melesatnya Boeing 787 Dreamliner hingga berhasil mencatatkan rekor tersebut, tentu tidak mengherankan, mengingat Boeing telah mempromosikan pesawat tersebut secara masif, dengan segala kelebihannya. Saat masih pada fase pengembangan, Dreamliner disebut-sebut akan menggunakan bahan komposit termasuk serat karbon untuk membuat pesawat lebih ringan dan fitur mesin yang efisien dari Rolls Royce dan General Electric yang akan memberikan jangkauan yang lebih luas sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar.
Di samping itu, Dreamliner juga dinilai lebih ‘mengerti’ (untuk mencapai efisiensi) maskapai dengan dimensi yang ditawarkannya. Alih-alih mengejar kapasitas, seperti kompetitornya, Airbus, yang meluncurkan pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380, Dreamliner justru tampil beda, dengan mengusung mesin twinjet (dua mesin) serta konfigurasi penumpang dikisaran 200-330 penumpang, dari total tiga varian yang ada, 787-8, 9, dan10.
Meskipun berhasil digandrungi banyak maskapai di seluruh dunia, Boeing 787 Dreamliner bukan tanpa masalah. Hingga kini, bahkan, maskapai-maskapai yang menggunakannya harus memutar otak akibat permasalahan pada mesin Rolls-Royce-nya.
Di antaranya ada Air New Zealand’s yang menangguhkan layanan penerbangan Auckland ke Shanghai dengan menggunakan Dreamliner. Ada juga British Airways yang biasa menerbangkan 787-9 ke Beijing dan Shanghai. Kemudian LOT Polish Airlines menggunakan Dreamliner untuk penerbangan ke Beijing dari Tallinn (ibukota Estonia) dan Warsawa (ibukota Polandia) hingga Virgin Atlantic Airways yang mengoperasikan penerbangan hariannya ke Shanghai dengan 787-9.
Jauh sebelum permasalah pada mesin muncul, Boeing 787 Dreamliner juga pernah memiliki riwayat permasalahan pada sistem oksigen. Sistem ini bekerja untuk tetap memasok oksigen bagi penumpang dan awak, saat tekanan udara dalam kabin turun (dekompresi). Masker udara akan turun dari langit-langit pesawat untuk memasok oksigen dari tabung gas. Tanpa sistem ini, siapa pun yang ada di pesawat akan lumpuh.
Pada ketinggian 35.000 kaki (sekitar 10.600 meter), kurang dari semenit penumpang akan pingsan. Pada ketinggian 40.000 kaki, mereka akan pingsan kurang dari 20 detik. Ini bisa disusul dengan kerusakan otak, bahkan kematian. Dekompresi sebetulnya jarang terjadi, tetapi bukan tidak pernah.
Bulan April 2018, jendela pesawat Southwest Airlines meledak, sesudah terhantam serpihan mesin yang rusak. Seorang penumpang yang duduk di samping jendela cedera parah dan kemudian meninggal dunia. Adapun penumpang lain bisa meraih oksigen darurat dan selamat. Masalah tersebut, walaupun tidak masif, namun cukup membuktikan bahwa permasalahan Dreamliner yang dilaporkan oleh John Barnett, eks manajer pengendalian kualitas di pabrik Boeing, benar adanya.
Baca juga: Airbus A220, Pesawat Narrow-Body yang Mampu Jabani Tugas Boeing 787 Dreamliner
Dengan dua masalah di atas, banyak kalangan menilai bahwa 2020 mungkin akan menjadi tahun revolusi bagi Dreamliner atau dalam artian menjadi tahun penentuan. Terlebih, tahun ini juga menjadi tahun kelahiran varian anyar jenis pesawat paling laris di dunia, Boeing 777X, yang sebagian besar mengadopsi banyak sisitem dari Boeing 787 Dreamliner. Bisa dibilang juga Boeing 777X adalah Boeing 787 Dreamliner yang ditingkatkan.
Jika sudah begitu, tentu saja banyak maskapai akan beralih ke Boeing 777X, dengan berbagai kelebihannya, di samping, Boeing 787 Dreamliner juga tergolong usang bila dibandingkan dengan kompetitornya, Airbus, yang melahirkan A350 xwb pada 2013 dan A330neo pada 2017. Menarik ditunggu, akankah Boeing 787 Dreamliner berhasil bertahan di tengah kondisi penerbangan global yang lesu akibat diterjang virus corona?