Rolls-Royce akhirnya menyerah dalam mengembangkan mesin pesawat supersonik Overture atau pesawat supersonik Boom. Ini tentu menjadi pukulan telak bagi Boom Supersonic yang sejak tahun 2020 lalu berharap banyak pada perusahaan teknologi asal Inggris tersebut.
Baca juga: Tepat Janji, Prototipe Pesawat Supersonik Boom XB-1 Resmi Dipamerkan, 2021 Mulai Melesat
Dipilihnya Rolls-Royce oleh Boom Technology untuk mengembangkan mesin pesawat supersonik Boom Overture ketika itu dianggap sebagai pilihan tepat, mengingat perusahaan berpengalaman dalam mengembangkan mesin pesawat supersonik Concorde Olympus 593 50 tahun lalu.
“Kami memiliki minat yang kuat dalam penerbangan supersonik dan strategi keberlanjutan untuk penerbangan dengan Boom. Kami sekarang membangun pengalaman berharga kami di ruang ini dan kerja sama kami sebelumnya untuk lebih mencocokkan dan menyempurnakan teknologi mesin kami untuk Boom’s Overture,” kata Direktur Strategi Rolls-Royce – Aerospace Sipil, Simon Carlisle.
“Kami telah menyelesaikan kontrak kami dengan Boom dan menyampaikan berbagai studi teknik untuk program Overture supersonik mereka,” lanjutnya.
“Setelah mempertimbangkan dengan cermat, Rolls-Royce telah menentukan bahwa pasar supersonik penerbangan komersial saat ini tidak menjadi prioritas bagi kami dan, oleh karena itu, tidak akan melanjutkan pekerjaan lebih lanjut pada program tersebut saat ini. Senang bekerja dengan tim Boom. dan kami berharap mereka selalu sukses di masa depan,” tambahnya, seperti dikutip dari Aviation International News.
Usai mundurnya Rolls-Royce dari program pengembangan mesin pesawat supersonik Overture, Boom harus bergerak cepat dalam menemukan perusahaan pengganti dalam pengembangan tersebut.
Bila tidak, target penerbangan pertama pesawat supersonik Boom Overture pada tahun 2026 dan beroperasi secara komersial mengangkut penumpang pada tahun 2029 bisa meleset, sesuatu yang tentu saja tak disukai maskapai yang telah menggelontorkan kocek besar dalam program Overture.
Japan Airlines pada tahun 2017 diketahui telah memesan 20 pesawat supersonik Boom Overture seharga USD 200 juta atau nyaris menyentuh Rp3 triliun (kurs 14.700). Maskapai Jepang itu mengaku sangat yakin dengan proyek tersebut.
Seiring waktu, Virgin Group pun turut memesan. Diikuti United Airlines dengan pesanan 15 pesawat dan opsi penambahan pesanan sebesar 35 pesawat. Sampai saat ini, totalnya telah mencapai 130 unit pesanan pesawat supersonik Boom Overture yang uang pembayaran DP-nya tidak dapat dikembalikan.
Pesawat supersonik Boom Overture dirancang untuk menampung antara 55 hingga 75 orang, dengan kecepatan rata-rata Mach-2.2 (sedikit di atas kemampuan pesawat supersonik Concorde dikisaran Mach 2.04 atau di bawah konsep pesawat supersonik Virgin Galactic dikisaran Mach 3), ketinggian jelajah di 60 ribu kaki, dan jangkauan terbang 7.866 km. Ini membuat perjalanan dari New York ke London hanya memakan waktu selama tiga jam 15 menit.
Namun, dalam desain terbaru yang ditampilkan Boom di gelaran Farnborough Airshow, desain pesawat berubah menjadi empat mesin. Kecepatannya juga turun menjadi Mach 1,7.
Pesawat supersonik Boom Overture dirancang dengan teknologi pengurangan kebisingan terbaru. Kecepatan supersonik hanya akan digunakan saat terbang di atas lautan untuk memastikan bahwa area berpenduduk tidak terpengaruh oleh sonic boom.
Baca juga: Dua Terobosan Ini Bisa Pangkas Waktu Tempuh Penerbangan Jadi Setengahnya, Apa Saja?
Bagi Anda yang ingin menikmati kenyamanan naik pesawat ini, siap-siap merogoh kocek sebesar 5.000 dollar AS atau sekitar Rp66,1 juta untuk sekali terbang. Biaya perkiraan ini hampir sama dengan harga tiket rata-rata penerbangan kelas bisnis.
Boom bukan satu-satunya perusahaan yang berusaha mengembalikan penerbangan supersonik. Aerion Corporation saat ini sedang mengembangkan pesawat supersonik komersial AS2 di kantor pusatnya di Reno, Nevada. Pesawat ini dapat menampung hingga 12 penumpang.