Serba Antik dan Terawat, Si Kecil Stasiun Bendono Punya Segudang Cerita

Stasiun Bendono, si kecil yang asri

Kalau di Jawa Barat ada stasiun Nagreg yang punya ketinggian sekitar +800 meter di atas permukaan laut, di Semarang ada stasiun Bedono yang memiliki ketinggian +711 m. Stasiun yang merupakan ujung dari jalur Bendono-Ambarwa-Tuntang ini memiliki jalur rel yang berbeda dengan lainnya karena berada di dataran tinggi.

Baca juga: Nagreg, Mengenal Stasiun Kereta Aktif Tertinggi Di Indonesia

Stasiun Bendono sendiri berada di kecamatan Jambu, Semarang dan berada di bawah naungan Daerah Operasional IV Semarang. Stasiun Bendono sendiri berstastus non aktif dan hanya menjadi tujuan akhir kereta wisata Ambarawa-Bendono dengan waktu operasi Sabtu-Minggu. Tetapi kereta wisata ini pun sekarang tidak lagi beroperasi.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, stasiun ini ada karena masa pemerintahan kolonial Belanda yang agresif menggasak berbagai hasil bumi Ibu Pertiwi. Apalagi stasiun Bendono berada di ataran tinggi yang dikelilingi kebun kopi.

Pengatur sinyal dan corong air di stasiun Bendono (Jejak kolonial)

Hal inilah yang mendasari Nederlandsch Indisch Spoorweg Matscapij (NISM) untuk membuat jalur kereta demi mengangkut hasil kopinya. Karena berada di ketinggian, Belanda menggunakan lokomotif uap bergerigi untuk menjalankan keretanya.

Tak hanya itu, jalur keretanya sendiri berbeda dari biasanya yang menggunkan dua besi panjang dan di baut bantalan kayu, tetapi di sini bagian tengahnya terdapat bes-besi yang mampu dikait oleh gerigi lokomotif. Untuk bangunan stasiun Bendono sendiri jauh dari kata mewah bahkan kebalikannya yakni sederhana.

Di stasiun Bendono hanya ada ruang tunggu penumpang dan sebuah ruangan yang merangkap sebagai ruang kepala stasiun dan penjualan tiket. Lantai stasiunnya sendiri menggunakan ubin tegel kotak-kotak khas stasiun tua. Ubin tegel ini didatangkan langsung dari pabrik tegel terkenal di Belanda dengan kualitas yang baik.

Dengan ubin tegel, lantai stasiun tidak akan basah jika tekena air sehingga pengunjung tidak perlu khawatir akan tergelincir saat berjalan. Di dalam salah satu ruang stasiun terdapat brankas kecil yang tertempel di tembok alias tidak akan bisa di bawa kecuali di bongkar.

Jalur bergigi stasiun Bendono dan turntable atau meja putar (jejak kolonial)

Mungkin, pada masa stasiun ini berjaya wilayah tersebut rawan dengan aksi perampokan karena agak terpencil dan jauh dari jangkauan petugas. Memang sudah tidak aktif, tetapi jika Anda berkunjung ke stasiun ini, bisa menemukan alat pengatur sinyal manual, turntable atau meja putar untuk lokomotif hingga corong air.

Corong air ini ada karena setiap perjalanan kembali ke ambarawa, lokomotif uap harus mengisi airnya untuk menjalankan kereta. Corong air ini sendiri tersambung dengan bak air yang besar dan terletak di samping rel kereta api serta tidak ada perubahan bentuk sama sekali. Pemandangan sekitaran stasiun Bendono juga masih hamparan sawah yang hijau.

Baca juga: Bolak Balik di Tutup, Stasiun Purworejo Kini Jadi Cagar Budaya

Meski kecil bentuk dari arsitektur bangunan ini bisa diacungi jempol karena masih terawat dengan baik hingga kini. Bahkan bisa dikatakan stasiun Bendono jauh dari kata kuno, kotor dan tidak terawat karena bangunan yang dibangun tahun 1873 ini masih berdiri kokoh dan bersih.