Qantas atau Queensland and Northern Territory Aerial Services adalah salah satu maskapai tertua di dunia yang masih aktif beroperasi dan sudah menginjak usia ke-100 tahun pada 2020 lalu. Selain itu, maskapai nasional Australia tersebut juga dikenal sebagai maskapai paling aman di dunia karena nyaris tidak pernah terlibat kecelakaan fatal, setidaknya setelah tahun 1951 sampai sekarang.
Baca juga: Sambut Perayaan Satu Abad, Qantas Layak Bangga Jadi Maskapai Teraman di Dunia
Dilansir laman resmi perusahaan, Qantas pertama kali didirikan pada 16 November 1920 oleh dua orang pensiunan Perang Dunia I, Paul McGinness dan Hudson Fysh. Tak heran, pesawat pertamanya, Avro 504K berkapasitas tiga orang termasuk pilot, merupakan biplane bekas Perang Dunia I. Di masa-masa awal berdiri, maskapai nasional Australia ini lebih banyak fokus mengantar surat atau kargo ketimbang mengantar penumpang.
Penumpang pertama Qantas baru datang pada tahun 1922. Saat itu, penumpang berusia 84 tahun yang tak disebutkan namanya itu minta diantar (maklum belum ada rute penerbangan reguler) ke Longreach ke Cloncurry, Queensland Tengah, Australia.
Selama beberapa tahun, Qantas hanya keliling Queensland sebelum akhirnya berkembang dan menjadi maskapai bergengsi di dunia. Tak heran, sejarah Qantas di Queensland dijadikan sebagai cerita rakyat yang terus dipropagandakan ke anak-anak sebagai pengetahuan umum terkait sumbangsih wilayah mereka (Queensland) terhadap Australia.
Pada awal 1930-an, Qantas beralinasi dengan Imperial Airways Inggris untuk membentuk Qantas Empire Airways. Maskapai ini mulai terbang antara Darwin dan Singapura (rute yang sekarang dioperasikan oleh cabang Jetstar yang berbiaya rendah) tak lama setelahnya.
Ketika Perang Dunia II meletus, Qantas mengoperasikan pesawat amfibi Short S.23 Empire untuk penerbangan jarak jauh berjadwal antara Southampton dan Sydney bersama Imperial Airways. Sayangnya, setelah sembilan hari, rute tersebut ditangguhkan akibat Perang Dunia II semakin berkecamuk.
Setelah Perang Dunia II usai, pemerintah Australia menasionalisasi Qantas Empire Airways. Sejak itu, maskapai terus memperluas jaringan internasional didukung dengan tambahan pesawat teranyar.
Pada akhir 1940-an, Qantas sudah terbang ke London, Kaledonia Baru, Hebrida Baru, Fiji, Nugini, dan Pulau Lord Howe. Pada 1950-an, jangkaun Qantas lebih jauh lagi, meliputi India, Johannesburg, Kepulauan Cocos, Mauritius, Vancouver, Auckland, Nadi, Honolulu, San Francisco, dan Los Angeles.
Di akhir tahun 50-an, tepatnya pada tahun 1959 Qantas menatap masa depan yang lebih cerah usai kedatangan pesawat jet pertama maskapai, Boeing 707. Qantas benar-benar melambung tinggi saat mengoperasikan Boeing 747 pada tahun 1971. Setidaknya, ada 64 pesawat Boeing 747 yang diterbangkan Qantas antara tahun 1971 dan 2020.
Beberapa tahun sebelum kedatangan Boeing 747, Qantas Empire Airways secara resmi mempersingkat namanya menjadi Qantas dan tetap seperti itu sampai saat ini.
Baca juga: Sejarah Panjang, 50 Tahun Boeing 747 Bersama Qantas
Saat ini, walaupun sempat terseok-seok imbas pandemi virus Corona, perlahan tapi pasti Qantas mulai bangkit. Beberapa waktu lalu, Qantas optimis bisa menerbangkan armada superjumbonya Airbus A380 -yang sebelumnya sudah diumumkan pensiun- mulai tahun 2022 mendatang.
Ke depan, maskapai juga akan terus mengembangkan eksistensinya di jaringan internasional dengan membentuk project sunrise untuk penerbangan ultra jarak jauh ke berbagai destinasi favorit di seluruh dunia, di antaranya penerbangan non-stop dari New York dan London ke Sydney selama 19 jam, menyabet gelar penerbangan terpanjang di dunia atau rute terpanjang di dunia kelak saat aktif beroperasi.