Singapore Airlines mungkin saat ini sudah jauh meninggalkan kompetitor mereka asal Negeri Jiran, Malaysia Airlines. Tetapi, di masa lalu, sepak terjang maskapai tersebut belum ada apa-apanya dibanding maskapai nasional Malaysia itu.
Baca juga: Ikuti Jejak Air France-KLM, Muncul Gagasan Merger Singapore dan Malaysia Airlines
Singapura dan Malaysia sejak dahulu memang tidak pernah akur. Selalu ada pertengkaran atau perdebatan terkait budaya, makanan, pariwisata, dan lain sebagainya antar kedua negara itu.
Tetapi, sebelum Singapura merdeka, keduanya pernah dipaksa untuk ‘akur’ oleh Inggris di akhir periode 144 tahun pemerintahan Inggris di wilayah tersebut, dengan menjadikannya sebagai salah satu dari 14 negara bagian Malaysia dari tahun 1963 sampai 1965. Berdirinya maskapai Malaysia Singapore Airlines (MSA) mungkin bisa jadi salah satu bukti.
Dilansir sea.mashable.com, sebelum berganti nama menjadi MSA, maskapai tersebut dikenal sebagai Malayan Airways. Maskapai ini didirikan pada 12 Oktober 1937, menerbangkan orang antara Singapura dan Penang. Ketika itu, maskapai belum memasuki ranah komersial melainkan masih menjadi bagian dari layanan udara pemerintah kolonial Inggris di Malaysia.
Barulah pada 2 April 1947, Malayan Airlines resmi terbang komersial dan mencari keuntungan dari setiap penerbangan.
Ketika Singapura resmi menjadi salah satu dari 14 negara bagian Federasi Malaysia pada 16 September 1963, Malayan Airways mulai rebranding. Tidak langsung menjadi MSA tetapi menjadi Malaysian Airways Limited terlebih dahulu.
Di periode yang sama, Borneo Airways dilebur dengan maskapai tersebut, mengingat Borneo Utara dan Sarawak, yang juga bekas koloni Inggris, juga digabung menjadi negara bagian dari Federasi Malaysia.
Sampai di sini, Malaysian Airways menjadi lebih optimis, ditambah dengan datangnya pesawat-pesawat canggih ketika itu, seperti De Havilland Comet IV, Fokker 27, dan DC-8.
Meski sempat terganggu dengan berpisahnya Singapura dari Federasi Malaysia, pada 9 Agustus 1965, untuk menjadi negara merdeka dan berdaulat, tetapi Malaysia Airways justru makin bersinar. Terlebih ketika memutuskan rebranding ulang menjadi Malaysia Singapore Airlines (MSA) pada tahun 1966.
Di bawah bendera MSA, maskapai berhasil diperhitungkan di kancah industri penerbangan internasional.
MSA terus beroperasi sampai setidaknya pada tahun 1972. Ketika itu, Malaysia dan Singapura memutuskan mengakhiri operasi MSA dan masing-masing mendirikan maskapai.
Malaysia mendirikan maskapai Malaysian Airline System (MAS) dan Singapura mendirikan Singapore Airlines (SIA) pada tahun yang sama. MAS akhirnya berganti nama menjadi Malaysia Airlines pada tahun 1987.
Kini, setelah bertahun-tahun ‘bercerai’ publik tentu sudah tahu betul siapa yang jadi benalu di antara kedua maskapai tersebut. Malaysia Airlines terus-menerus dalam keadaan terpuruk. Entah puncak atau awal mula keterpurukan, yang jelas, salah satu sebab keterpurukan datang dari kecelakaan MH370 pada 2014 silam.
Baca juga: 50 Tahun Tak Berjumpa, Awak Kabin dan Pilot Malaysia-Singapore Airlines Reunian
Pada Juni 2019 lalu, Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad di sela acara KTT Asia Pasifik ke-33, bahkan sampai mempersilahkan bilamana ada investor luar maupun dalam negeri yang ingin membeli Malaysia Airlines. Itu dilakukan semata untuk menyelamatkan maskapai yang keuangannya sudah terseok-seok.
Di tahun yang sama, nasib Singapore Airlines justru sebaliknya. Maskapai kebanggaan Singapura itu berhasil menyabet gelar maskapai terbaik versi Forbes dan menjadi maskapai terbaik kedua versi Skytrax.