Masih ingatkah kejadian ambruknya jembatan kereta api Sungai Glagah, Brebes 11 Januari 2011 lalu? Ya, banjir besar di sungai tersebut telah merobohkan tiang penyangga yang sudah berusia puluhan tahun ini hingga terseret arus banjir. Kemudian rel yang berada diatas jembatan menggantung dan hampir putus. Hingga saat ini jembatan yang berada di KM 305 masih tahap perbaikan. Pun kereta api yang melintas mau tidak mau kembali menggunakan satu jalur. Kadang kalau papasan, salah satu kereta api harus mengalah (bersilang) di Stasiun Linggapura maupun Bumiayu.
Baca juga: Jembatan Kereta Bukit Duri, Berdesain Klasik Tapi Terlupakan
Dari kejadian yang tidak diduga tersebut PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto terus berupaya mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan perjalanan KA akibat bencana alam di sekitar jalur rel. Apalagi jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2022, angkutan kereta api akan terus meningkat headway-nya agar perjalanan lebih lancar.
Curah hujan yang masih cukup tinggi dan terus – menerus tentunya patut diwaspadai kemungkinan adanya bencana alam. Apalagi hujan yang terjadi pada Senin (14/3) malam hingga Selasa (15/3) telah menyebabkan banjir di Kabupaten Banyumas, Kebumen, dan Purworejo. Untungnya tidak sampai mengganggu perjalanan kereta api di wilayah PT KAI Daop 5 Purwokerto khususnya lintas Kroya – Kutoarjo.
Titik rawan bencana di wilayah Daop 5 Purwokerto meliputi petak Linggapura – Bumiayu yang hingga saat ini masih dalam perbaikan jembatan, Notog – Kebasen berupa rawan longsor karena adanya tebing curam serta dinding tebing sudah mulai terkikis, serta Banjar – Langen, Meluwung – Cipari, Kawunganten – Jeruklegi, dan Jeruklegi – Lebeng merupakan daerah rawan longsor. Kemudian petak jalan Prupuk – Legok, Karangsari – Karanggandul, dan Kawungganten – Jeruklegi merupakan daerah rawan banjir.
Baca juga: Jembatan Bekasi – 130 Tahun Beroperasi dan Masih Setia Layani Lalu Lintas Kereta
Mencegah peristiwa yang tidak diprediksi, PT KAI Daop 5 Purwokerto terus menerjunkan petugas untuk melakukan pemantauan di titik – titik rawan bencana, dan menambah Petugas Penilik Jalur (PPJ) ekstra. Semua itu dilakukan untuk meminimalisasi potensi bahaya akibat bencana yang mungkin dapat mengganggu perjalanan KA. (PRAS – Cinta Kereta Api)