Thai Airways dikabarkan menunda permintaan pengembalian dana oleh penumpang (refund). Saat ini, flag carrier Thailand tersebut tengah berjuang menghindari kebangkrutan melalui prosedur ‘anti bangkrut’ di Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand.
Baca juga: Covid-19 Paksa Maskapai Terbesar LATAM Bangkrut! Jadi Maskapai Kelima Bangkrut Akibat Corona
“Karena Thai Airways saat ini sedang menjalani proses rehabilitasi melalui Pengadilan Kepailitan Pusat, dengan menyesal perusahaan harus memberi tahu pelanggan bahwa untuk sementara proses permintaan pengembalian uang (refund) ditunda,” kata perusahaan dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari businesstraveller.com.
“Informasi lebih lanjut tentang proses pengembalian dana (refund) dan perkembangan mengenai proses restrukturisasi perusahaan akan disampaikan pada waktunya nanti (jangka waktu yang tidak dapat ditentukan),” tambah, perusahaan.
Sebelumnya Thai Airways mengatakan perlu dana sekitar 58 miliar baht, atau senilai 1,8 miliar dolar AS, untuk melakukan restrukturisasi. Namun pemerintah Thailand sekarang mengatakan, prosedur itu terlalu lama. Prosedur kebangkrutan lewat pengadilan di Thailand memungkinkan perusahaan terus beroperasi, di bawah pengawasan pengadilan atau orang yang ditugaskan pengadilan.
Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha mengatakan kabinetnya menimbang beberapa opsi untuk maskapai Thai Airways yang terdampak covid-19, termasuk melakukan likuidasi. Namun, Prayut mengungkapkan pilihan itu tidak jadi diambil karena lebih dari 20 ribu pegawai akan kehilangan pekerjaan. Mengacu data akhir tahun lalu, maskapai Thai Airways memiliki 21 ribu karyawan.
“Thailand dan seluruh dunia sedang menghadapi krisis. Penghasilan setiap orang menurun karena efek covid-19. Kita harus memprioritaskan anggaran untuk membantu orang-orang di masa depan,” kata Prayut.
Sebenarnya, Thai Airways telah terganggu sebelum pandemi virus corona muncul pertama kali di Cina pada akhir 2019. Mengacu laporan tahun lalu, maskapai pelat merah ini mengalami kesulitan karena ekonomi global yang melambat, fluktuasi harga minyak, dan persaingan maskapai penerbangan bertarif rendah yang kian ketat.
Baca juga: Demi Hidup di Masa Pandemi, Pilot Thai Airways Jadi Pengemudi Ojek Online
Bila langkah-langkah restrukturasi pada akhirnya gagal, dapat dipastikan bahwa Thai Airways akan menyusul lima maskapai lainnya yang sudah terlebih dahulu mengalami hal serupa akibat virus corona atau Covid-19. Mulai dari Avianca, Virgin Australia, FlyBe, dan Trans State Airlines.
Kendati demikian, pengamat penerbangan, Ridha Aditya Nugraha, menyebut bahwa kecil kemungkinan maskapai di Asia akan mengalami kebangkrutan. Sentimen nasionalisme dinilai menjadi titik krusial atas hal itu. Menurut pengamat penerbangan yang juga konsultan Aviation & Space Law tersebut, kultur negara-negara di Asia masih melihat isu nasionalisme sebagai suatu hal mutlak, dalam hal ini menyangkut keberlangsungan hidup maskapai flag carrier. Berbeda dengan Eropa yang pada umumnya menyerahkan permasalahan maskapai ke market.