Cina dengan jumlah penduduk 1,38 miliar jiwa memiliki 234 bandara sipil hingga Oktober 2018 kemarin dan jumlah ini akan mencapai 450 di tahun 2035 mendatang. Penambahan ini sendiri merupakan ambisi Cina untuk menjadi kekuatan penerbangan terbesar di dunia.
Baca juga: Manufaktur Rudal dari Cina Buat Pemindai Tubuh di Bandara dengan Keakuratan 95 Persen
Administrasi Penerbangan Sipil Cina atau The Civil Aviation Administration of China (CAAC) mengatakan hal tersebut pada Senin (10/12/2018) kemarin. Dari data yang ada, pada tahun 2035, permintaan transportasi udara penumpang Cina akan melampaui Amerika Serikat dan dalam dekade berikutnya sebagai kelas menengah yang semakin meluas . Ini akan mewakili hampir seperempat dari total penerbangan dunia.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (12/12/2018), pada tahun 2017 kemarin, bandara di Cina menampung 552 juta wisatawan dan diperkirakan tumbuh menjadi 720 juta pada tahun 2020. Dengan jumlah bandara saat ini, tidak akan mampu menampung kenaikan volume seperti sekarang.
Hal ini yang menjadikan CAAC memiliki rencana membangun bandara baru yang menjadi tambahan untuk mengatasi jumlah penumpang yang terus meningkat. Penambahan bandara baru sendiri, rencananya akan dibangun di wilayah Beijing-Tianjin-Hebei, wilayah Delta Sungai Yangtze, Area Teluk Besar Guangdong-Hong Kong-Macau, serta di kota-kota Chongqing dan Chengdu.
Selain karena peningkatan konektivitas antar daerah, bandara baru akan menjadi salah satu promosi pariwisata untuk pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tersebut. Baru-baru ini, perencana negara Cina, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) memberikan izin untuk proyek perluasan Bandara Urumqi (URC) di Xinjiang dengan nilai RMB42.1bn ($6.06bn).
Pembangunan URC dijadwalkan akan berjalan hingga 2030 ketika bandara diperkirakan untuk mengelola 750 ribu ton kargo dan 63 juta penumpang per tahun. Pada tahun 2015, Bandara Urumqi diperkirakan memiliki 550 ribu kargo yang melewati setahun.
Namun, para pembuat kebijakan Cina juga berharap bahwa rebound dalam investasi infrastruktur dapat memberikan dorongan bagi ekonomi yang meluas pada laju terlemah sejak krisis keuangan global dengan analis memperkirakan pelemahan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang. Dewan negara mengatakan pada Oktober bahwa negara itu akan meningkatkan investasi di infrastruktur seperti kereta api, jalan raya dan bandara untuk memacu permintaan domestik.
Dalam laporan terbarunya, penyedia solusi TI SITA mengatakan bahwa bandara dan maskapai penerbangan Cina telah meningkatkan pengeluaran TI mereka dengan fokus khusus pada keamanan dunia maya. Fokusnya adalah untuk melengkapi bandara dan terminal baru dengan teknologi terbaru dan mengelola jumlah penumpang yang terus bertambah.