Insiden jatuhnya pesawat Boeing 737-800NG China Eastern Airlines di Provinsi Guangxi, Cina memasuki babak baru. Hasil penyelidikan dari black box FDR dan CVR mengungkapkan pilot tidak merespon kontak oleh ATC dan pilot penerbangan terdekat. Hal ini kemudian menimbulkan dugaan awal dari pejabat terkait di Amerika Serikat (AS) bahwa pilot bunuh diri dan dengan sengaja menabrakkan pesawat.
Terlepas dari itu dugaan awal dan belum menjadi keputusan akhir, disertai dengan data dan fakta bahwa pilot China Eastern Airlines terbukti kuat melakukan bunuh diri dan dengan sengaja menabrakkan pesawat ke darat, peristiwa seperti itu bukanlah pertama kali terjadi.
Sejak era pesawat modern atau pesawat jet dimulai pada akhir dekade 40an – 50an, telah terjadi beberapa kali peristiwa kecelakaan pesawat yang dilatarbelakangi motif bunuh diri oleh pilot. Salah satu di antaranya bahkan menyebabkan perubahan drastis pada sistem keamanan di pesawat.
Dilansir dari berbagai sumber, berikut tiga kasus pilot bunuh diri dengan sengaja menabrakkan atau menjatuhkan pesawat.
1. Malaysia Airlines MH370
Teka-teki jatuhnya pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines MH370 yang hilang kontak sejak 8 Maret 2014 silam masih menjadi misteri yang belum terpecahkan sampai detik ini.
Peristiwa hilangnya Malaysia Airlines MH370 dengan 227 penumpang dan 12 kru ini sekaligus membuka mata semua pihak bahwa di era pesawat canggih seperti sekarang ini, pesawat ternyata masih bisa menghilang tanpa jejak bak ditelan bumi dan langit.
Pada bulan Juni 2019 lalu, para pakar yang meneliti misteri terbesar di dunia dirgantara ini melempar spekulasi bahwa Capt. Zaharie Shah dengan sengaja menurunkan tekanan udara di dalam kabin (depressurisation) dan membawa pesawat berjenis Boeing 777-200 ini jauh keluar jalur guna menghabiskan bahan bakar dan jatuh di lautan.
Dugaan lain yang muncul adalah pilot yang sebelumnya sudah terkenal sebagai pribadi yang bermasalah dan kesepian ini dengan sengaja menukikkan pesawat ke Samudera Hindia.
Dalam buku “Tha Crash Detectives” karya Jurnalis Perancis Christine Negroni, penyebab hilangnya MH370 justru bukan karena bunuh diri pilot Capt. Zaharie Shah, melainkan kopilot Fariq Hamid saat Capt. Zaharie tengah keluar kokpit. Ia kemudian dengan sengaja bunuh diri dan menjatuhkan pesawat ke lautan.
Baca juga: Hari Ini, 44 Tahun Lalu, Tabrakan Dua Boeing 747 Jadi Kecelakaan Pesawat Terburuk Sepanjang Masa
2. Germanwings Flight 9525
Pasca peristiwa serangan 11 September 2001 atau lebih dikenal 9/11, pintu kokpit pun didesain ulang dan menjadi lebih kokoh, anti peluru, dan tidak bisa dibuka secara paksa dari kabin. Hanya pilot dan kopilot-lah yang bisa membuat pintu kokpit. Setelah beberapa tahun, ini ternyata menjadi awal penyebab terjadinya kecelakaan tragis pesawat Airbus A320 Germanwings flight 9525.
Disebut tragis, sebab, selain menewaskan seluruh kru dan penumpang berjumlah 144 penumpang dan enam kru, pesawat yang jatuh di Pegunungan Alpen itu bukanlah murni kecelakaan, melainkan dengan sengaja ditabrakkan ke gunung oleh kopilotnya yang bernama Andreas Lubitz. Hal itu terkuak setelah penyelidik dari kejaksaan Marseille mempelajari posisi, arah, dan jatuhnya pesawat.
Berdasarkan rekaman percakapan yang diperoleh dari kotak hitam, Lubitz diketahui mengunci kokpit ketika kapten pilot meninggalkan ruang kemudi pesawat yang membawa 150 orang, termasuk kedua pilot.
Sang pilot sempat mengetok, menggedor, dan menghantam pintu kokpit dengan kapak saat Lubitz membawa pesawat menukik tajam ke arah pegunungan. Namun, usahanya sia-sia. Sebab, selain terkunci, pintu kokpit memang didesain tahan terhadap serangan, termasuk tipe serangan menggunakan senjata tajam seperti yang dilakukan pilot tersebut.
Baca juga: Tak Seperti MH370, Sudah 18 Tahun Boeing 727 Maskapai Ini Hilang Tapi Tak Serius Dicari
3. SilkAir MI185
Boeing 737-300 SilkAir dengan nomor penerbangan MI185 jatuh misterius di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, pada 19 Desember 1997 sekitar pukul 16.13 waktu setempat. Disebut misterius, sebab, tidak ada tanda-tanda kerusakan teknis pada pesawat dan kendala non teknis.
Setelah penyelidikan panjang, NTSB menyimpulka, pesawat rute Jakarta – Singapura itu diketahui lepas landas dengan membawa total 104 orang, 97 penumpang dan 7 kru itu diduga kuat karena disengaja oleh pilot. Itu didukung oleh berbagai fakta.