Perang Rusia-Ukraina memaksa maskapai internasional mengubah rute penerbangan. Tak main-main rute ke beberapa negara bahkan harus ditempuh sampai 4.000 km lebih jauh dari penerbangan biasanya. Berubahnya rute penerbangan juga membuat traffic penerbangan di beberapa negara Eropa jauh berkurang.
Baca juga: Lima Dampak Perang Rusia-Ukraina yang Bikin Maskapai Internasional Pusing
Laporan Eurocontrol baru-baru ini menunjukkan, lima negara terkena dampak rute memutar yang harus ditempuh maskapai internasional, itu termasuk Norwegia, Lituania, Latvia, Estonia, dan Polandia.
Di antara kelima negara tersebut, Lituania mengalami kerugian tertinggi dengan penurunan traffic penerbangan sampai 46 persen sejak tanggal 14 Februari sampai 14 Maret.
Di bawahnya ada Polandia dengan penurunan traffic penerbangan mencapai 33 persen, Latvia 25 persen, Norwegia lima persen, dan Estonia satu persen.
Eurocontrol menyebutkan, penurunan traffic penerbangan di lima negara tersebut lantaran membekunya penerbangan dari arah Barat ke Timur, termasuk dari Perancis, Jerman, dan Inggris. Ada juga pengaruh lainnya dari penerbangan jarak pendek rute Finlandia dan Estonia ke Jerman.
Sebaliknya, beberapa negara yang bertetangga dengan lima negara tersebut justru ketibang untung. Swedia, misalnya, mengalami peningkatan traffic penerbangan akibat pengalihan rute penerbangan dari Finlandia-Estonia ke Jerman.
Demikian juga dengan Slowakia dan Hongaria yang mengalami kenaikan traffic penerbangan sampai hampir 30 persen pada tanggal 14 Februari sampai 14 Maret akibat perubahan rute maskapai. Yang paling tinggi adalah Georgia dan Armenia yang masing-masing mengalami kenaikan 76 persen dan nyaris 100 persen traffic penerbangan.
Itu terjadi lantaran posisi kedua negara tersebut menjadi lebih strategis menjadi penghubung antara Barat dan Timur, termasuk seluruh penerbangan dari Rusia ke Barat, Selatan, dan Timur untuk keberangkatan dari Sochi, Rusia.
Rute yang memutar juga memaksa maskapai menempuh jarak lebih jauh ke beberapa kota. Kopenhagen, Denmark, misalnya, penerbangan dari dan ke Singapura serta Shanghai mengalami tambahan 1.500 km lebih jauh akibat rute yang memutar.
Angka tersebut juga terjadi untuk penerbangan dari Amsterdam, Belanda, dan Frankfurt, Jerman, ke Seoul, Tokyo, Beijing, dan lainnya.
Peningkatan jarak dan waktu tempuh, yang pada akhirnya berdampak pada konsumsi bahan bakar Avtur, juga membuat maskapai menghentikan penerbangan di beberapa rute. Seperti SAS Airlines yang menghentikan rute Kopenhagen-Tokyo serta Finnair yang menutup rute Helnsinki-Beijing untuk sementara.
Selain rute internasional kacau, jarak tempuh, penerbangan yang lebih sedikit akibat penutupan ruang udara Rusia dan Eropa, perang Rusia-Ukraina juga telah mempengaruhi harga bahan bakar Avtur. Ini mendorong maskapai mau tak mau menaikkan harga tiket.
Baca juga: Gegara Sanksi UE, Pesawat Rombongan Diplomat Rusia yang Diusir Spanyol Tempuh Rute 3.678 Km Lebih Jauh
“Harga minyak telah melonjak mendekati US$130/barel (dari harga normal US$67/barel). Dan telah berubah-ubah dalam kisaran US$95-US$110 selama sebulan,” kata Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh.
“Karena bahan bakar adalah biaya variabel terbesar sebuah maskapai penerbangan, menyerap kenaikan harga yang begitu besar saat industri sedang berjuang untuk keluar dari krisis Covid-19 dua tahun adalah tantangan besar. Jika harga minyak tetap setinggi itu, maka seiring waktu, masuk akal untuk berharap bahwa itu akan tercermin dalam hasil maskapai,” tambahnya.