Lowongan kerja pengemudi bus saat ini tak sulit untuk Anda temukan. Di surat kabar, platform pencari kerja, hingga media sosial lowongan tersebut dapat ditemukan dengan mudah.
Baca juga: Dibekali Pelatihan Khusus, Inilah Rincian Tugas Pramugari Bus AKAP Premium
Syaratnya juga tak muluk-muluk, bahkan beberapa perusahaan otobus (PO) hanya mensyaratkan pelamar memiliki surat izin mengemudi (SIM) B1 umum dan ijazah sekolah menengah. Surat pengalaman kerja (paklaring) untuk membuktikan pengalaman kerja tak diwajibkan.
Bukan tanpa alasan, sebab banyak PO yang memang membutuhkan pengemudi secepatnya dalam jumlah banyak. Jika syaratnya terlampau banyak pastinya waktu yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pengemudi bakal lebih lama.
Tentunya, hal itu tak baik bagi keuangan perusahaan apabila dibiarkan terus menerus. Armada hanya terdiam di garasi sembari menunggu pawangnya datang, alih-alih berada di jalanan mencari cuan.
Kondisi yang jauh berbeda dibandingkan dengan dua sampai tiga dekade lalu. Kala itu, untuk menjadi seorang pengemudi bus, khususnya pengemudi bus antarkota antarprovinsi (AKAP) bukan hal mudah. Banyak tahapan yang harus dilalui oleh seseorang sebelum akhirnya bisa bertugas di balik kemudi.
Aris, pengemudi bus AKAP jurusan Jakarta-Surabaya-Malang mengatakan pada medio 1980-1990-an pengemudi bus AKAP, khususnya bus malam kelas tertinggi adalah orang-orang pilihan. Pengemudi baru dengan sedikit atau tanpa pengalaman mustahil bisa mengemudikan bus malam eksekutif atau kelas di atasnya.
“Orang pilihan kalau yang bawa eksekutif atau kelas tertinggi. Jam terbang harus tinggi dan harus ada orang yang bawa atau kasih jaminan [rekomendasi]. Enggak bisa langsung masuk dikasih nyetir atau batangan [pegangan] mobil eksekutif kaya sekarang,” katanya.
Pada masa itu, Aris menyebut seseorang pengemudi bus malam biasanya mengawali kariernya dengan menjadi kernet. Bahkan, beberapa diantaranya memulai kariernya sebagai tukang cuci atau pesuruh di garasi.
Dari pekerjaan tersebut lahir pengemudi yang tidak hanya andal mengemudi, tetapi juga bisa merawat kendaraannya dengan baik. Tak sedikit pula yang bisa memperbaiki kendaraannya ketika mengalami kerusakan ringan di jalan.
“Kalau dulu itu dari kernet atau tukang cuci. Jadi kernet belajar gimana ngurus mobil, betulin mobil, melayani penumpang. Baru setelahnya itu diajari nyetir sama sopir kita, nyetir kalau pindah-pindah parkir di terminal saja. Intinya dari nol banget,” ungkapnya.
Aris sendiri mengawali kariernya sebagai kernet pada pertengahan 1980-an. Kala itu, dia ditugaskan mengawal perjalanan bus jurusan Jakarta-Bandung via Puncak di perusahaan yang sama seperti tempatnya bekerja sekarang.
Di sela-sela waktu istirahat, dia diajari mengemudi oleh partner kerjanya dan akhirnya memiliki SIM B1 umum. Setelah itu, barulah dia direkomendasikan untuk menjadi pengemudi.
“Nggak langsung jadi sopir tetap itu, pertama jadi cadangan atau relingan buat jalan Bandung [-Jakarta PP]. Habis itu saya jadi sopir kedua buat rute jauh Jakarta-Malang. Setelah berapa tahun baru deh saya dapat batangan [mobil],” tuturnya.
Menurut Aris, sistem seperti itu punya banyak kelebihan. Salah satunya adalah kematangan pengemudi menghadapi segala sesuatu di jalanan, termasuk diantaranya adalah kerusakan kendaraan yang terjadi tiba-tiba.
Baca juga: Pengemudi Bus AKAP Malam, Korbankan Waktu Demi Antar Penumpang
“Banyak itu sekarang sopir muda, udah dapat mobil bagus. Ngebut-ngebut doang, kalo mobil kenapa-kenapa di jalan, jangankan ngolong buat ngecek, kena oli aja enggak mau. Kenek disuruh-suruh doang atau nungguin mekanik yang posisinya kadang jauh banget,” keluhnya. [Bisma Satria]