Insiden hilangnya Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 pada Senin (29/10/2018) kemarin mendapat sorotan luar biasa dari publik. Pukulan keras dirasakan bukan hanya oleh pihak keluarga yang ditinggalkan para korban, melainkan dunia aviasi nasional pun mendapatkan pukulan telak sama rata. Alih-alih berduka atas insiden ini, sejumlah pertanyaan skeptis mulai muncul dari benak para pemerhati – kenapa banyak terjadi kecelakaan pesawat di Indonesia?
Mungkin masih lekat di ingatan Anda ketika Air Asia dengan nomor penerbangan QZ8501 yang tenggelam di Laut Jawa, tepatnya di dekat Selat Karimata pada 28 Desember 2014 silam. Pesawat ini terbang dari Surabaya menuju Singapura dan menewaskan 162 orang, yang terdiri dari 7 awak pesawat dan 155 penumpang. Ini hanya salah satu contoh dari sekian banyak kecelakaan yang terjadi di Indonesia – sebagai salah satu contoh pendukung pernyataan banyaknya kecelakaan di Indonesia.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, KabarPenumpang.com mengutip analisa yang dirilis dalam media indiatoday.in (30/10/2018). Tidak dapat dipungkiri, sektor aviasi di Indonesia sangatlah berkembang pesat belakangan ini, dimana banyaknya maskapai berlabel Low Cost Carriers (LCC) menyajikan tiket harga miring yang memungkinkan setiap orang untuk mengudara. Semakin banyak permintaan mengudara, maka semakin banyak pula layanan yang tersedia.
Peningkatan frekuensi penerbangan ini berkorelasi dengan meningkatnya jam terbang dari para pilot – mengingat masih kurangnya jumlah pilot profesional yang mumpuni untuk melakukan penerbangan berjadwal. Stamina pilot yang secara stimultan tergerus menjadi salah satu faktor dari banyaknya kecelakaan pesawat di Indonesia.
Terlepas dari masalah human error tersebut, media asal India ini juga mengindikasikan kurangnya supervisi dari Pemerintah yang berdampak pada pemeliharaan di bawah standar. Akibatnya, beragam kerusakan minor kerap kali menghiasi log pilot pasca mendaratkan si burung besi. Sikap acuh tak acuh dari pihak yang terkait membuat kondisi ini semakin menjadi dan kecelakaan pesawat yang dilandaskan oleh kerusakan mesin semakin memanjangkan daftar kelam sektor aviasi nasional.
Namun satu yang patut digarisbawahi agar kejadian seperti ini tidak mengguratkan memori buruk bagi Anda yang sekiranya hendak mengudara dalam waktu dekat ini – pesawat terbang merupakan moda paling aman hingga saat ini. Sebagaimana studi yang dilakukan oleh Universitas Northwestern pada tahun 2001 silam, mereka membandingkan kecelakaan mobil dan pesawat.
Untuk setiap 1 miliar mil perjalanan dengan menggunakan mobil, ada 7,2 orang meninggal. Sementara dengan pembanding yang sama, pesawat hanya menetaskan angka 0,07 orang. Kendati kecelakaan Lion Air JT610 menorehkan trauma bagi sebagian orang, namun perjalanan via udara bukanlah satu hal yang ditakuti berlarut-larut.