Lampung menjadi provinsi paling selatan Pulau Sumatera dan memiliki banyak destinasi cantik karena berada dekat laut. Dengan beberapa pelabuhan, pelancong bisa masuk ke Lampung dengan mudah seperti dari Bakauheni.
Baca juga: Mengenal Pelabuhan Merak, Gerbang Penyeberangan Tersibuk di Indonesia
Tapi ternyata sebelum ada Bakauheni, Lampung memiliki pelabuhan lain yang juga menjadi aset dari PT KAI Divisi Regional (Divre) IV Tanjungkarang. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, belum lama ini, PT KAI Divre IV melakukan kunjungan ke Pelabuhan Srengsem tersebut.
“Iya ini jadi salah satu aset kita juga. Untuk luas pelabuhan ini 27.745 meter persegi. Jadi, perlu diketahui bahwa KAI juga memiliki aset pelabuhan yang pantainya indah,” ujar Deputi Kepala PT KAI Divre IV, Tanjungkarang Asdo Artri Viyanto.
Dia mengatakan, Pelabuhan Srengsem sendiri merupakan salah satu aset KAI baik dari Daop ataupun Divre yang memiliki pantai. Bahkan Asdo menambahkan, kedepannya Pelabuhan Srengsem sendiri akan dikembangkan untuk angkutan.
Ternyata Pelabuhan Srengsem dulunya pusat pendidikan yang merupakan tukar guling dengan PT Pelindo sebelum menjadi milik PT KAI. Pelabuhan Srengsem, pada masa jayanya dulu digunakan untuk bersandar kapal ferry, kemudian memasuki masa kadaluarsa alias tak lagi beroperasi tahun 1981 silam dan digantikan Pelabuhan Bakauheni saat ini.
Pada Pelabuhan Srengsem bagian utara ada rumah-rumah nelayan dengan model bangunan panggung dan berdiri diatas air laut. Tak jauh dari rumah nelayan, terdapat Pelabuhan Panjang berdiri kokoh.
Baca juga: Rute Tol laut Tanjung Priok-Panjang, Akankah Berdampak Pada Lintasan Merak-Bakauheni?
Di pelabuhan ini kapal barang dan peti kemas berlabuh serta bersandar. Sayangnya sisi selatan Pelabuhan Srengsem tidak cukup enak dipandang meskipun ada pantai yang bisa digunakan untuk berenang dan bermain pasir. Sebab 200 meter setelahnya adalah bangunan galangan kapal besar.
Sayangnya aset milik PT KAI ini bukan tempat yang nyaman untuk berwisata. Meski begitu banyak masyarakat yang menyempatkan waktu mereka untuk sejenak melepas penat sembari menikmati deburan angin pantai dan deru suara ombak dari air laut.