Atas musibah yang dialami Lion Air JT-610 dan Ethiopian Airlines ET-302, berlanjut ke tekanan regulator dari seantoro dunia, akhirnya pihak Boeing telah resmi memberlakukan temporary grounded pada seluruh armada Boeing 737 MAX 8, termasuk yang beroperasi di wilayah Amerika Serikat. Nah, setelah langkah grounded dibelakukan secara serentak, ternyata masih ada saja kasus yang melibatkan Boeing 737 MAX 8.
Baca Juga: Boeing 737 MAX 7, Pecahkan Rekor Internal Penjualan Pesawat Tercepat Sepanjang Sejarah!
Berita mengejutkan datang dari pesawat Boeing 737 MAX 8 Flight 8701 milik maskapai Southwest Airlines yang tengah melakoni perjalanan non-komersial (tanpa penumpang) terpaksa melakukan pendaratan darurat setelah dilaporkan ada masalah pada bagian mesinnya, Selasa (26/3/2019) sore waktu setempat di Bandara Internasional Orlando, Amerika Serikat.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (27/3/2019), pesawat Boeing 737 MAX 8 Southwest Airlines ini diterbangkan dari Florida ke California untuk disimpan di storage facility. Menurut laporan yang diterima dari Federal Aviation Administration (FAA), pilot yang mengemudikan pesawat ini melaporkan bahwa ada masalah pada bagian mesinnya dan menyatakan situasi darurat sekira pukul 14.50 waktu setempat.
Sang pilot ini sendiri pun melaporkan masalah pada mesin tak lama setelah ia lepas landas dari Bandara Internasional Orlando. Petugas bandara mengatakan pesawat tersebut hanya berisikan pilot dan kopilot. Senada dengan yang diutarakan oleh sang pilot, petugas bandara pun mengatakan bahwa Boeing 737 MAX 8 tersebut mengalami kegagalan fungsi dan harus kembali ke Orlando untuk pendaratan darurat. Beruntung, pesawat twin engine narrow body ini dapat Return to Base (RTB) dengan selamat.
Baca Juga: Ini Dia Daftar Maskapai yang Belum Hentikan Penggunaan Boeing 737 MAX 8
Mengutip dari laman nytimes.com, FAA mengatakan bahwa pihaknya kini tengah melakukan penyelidikan guna mengetahui akar masalah dari insiden pendaratan darurat ini. Namun FAA menyebutkan bahwa insiden ini tidak ada kaitannya dengan masalah software Angle of Attack (AoA) yang ditengarai menjadi penyebab kecelakaan Ethiopian Airlines dan Lion Air.