Beragam usaha dilakukan operator kereta komuter untuk bisa mengangkut penumpang secara maksimal di jam-jam padat (peak hours). Namun faktanya antara kebutuhan dan kapasitas sulit untuk sejalan di momen tersebut, alhasil pada peak hours lazim terlihat antrian penumpang yang mengular panjang di peron stasiun.
Baca juga: Tingkatkan Keamanan di Peron, Stasiun MRT Jakarta Akan Dilengkapi Platform Screen Doors
Pun lebih-lebih di dalam kabin kereta, sudah jamak bila ratusan penumpang saling tergencet hingga kehabisan nafas. Penambahan jumlah rangkaian dan frekuensi perjalanan menjadi jurus standar yang biasa diupayakan, tapi toh strategi tersebut ada batasannya, operator kereta tak bisa sembarangan menambah jumlah rangkaian dan frekuensi perjalanan.
Berangkat dari kasus di atas, MTA (Metropolitan Transportation Authority) selaku pengelola layanan transportasi bus dan MRT (Mass Rapid Transit) di New York, AS, menerapkan gagasan yang sederhana tapi memberi efek besar. Ini tak lain dengan memasang bangku model lipat di dalam kereta komuter bawah tanah “L Train.” Dengan model bangku lipat maka otomatis kabin kereta bisa lebih banyak diisi oleh penumpang, tentunya penumpang disini harus berdiri, terkecuali penumpang penyandang disabilitas.
Dikutip KabarPenumpang.com dari nydailynews.com (24/10/2017), pihak MTA menyebut untuk tahap awal sedang diuji coba pada dua rangkaian perjalanan. Pejabat MTA mengonfirmasi bahwa pada jam-jam sibuk seperti pulang kantor lebih banyak penumpang yang berdiri, itu pun sudah melebihi dari daya muat yang seharusnya. Agar memberi ketegasan, bangku lipat akan dikunci oleh petugas pada jam-jam sibuk, dan kunci akan dilepas pada jam-jam lengang.
Di tahap awal, MTA mencoba foldable seat ini untuk rute jarak pendek dari stasiun Third Ave. Penerapan kursi lipat ternyata juga terkait dengan urusan keamanan, pasalnya akibat usaha berdesakan penumpang masuk ke dalam kereta, tak jarang ada insiden di sekitar pintu otomatis. Dengan adanya kursi lipat, maka akan lebih banyak penumpang yang bisa dibawa dan pergerakan lalu lintas penumpang di kabin kereta menjadi lebih lapang.
Rasanya-rasanya ide penerapan kursi lipat di New York bisa menjadi contoh untuk KRL Jabodetabek. Bagaimana, Apakah Anda setuju?