Setelah galau akibat tak kunjung mendapat pengganti Code One atau Air Force One, Korea Selatan akhirnya mengumumkan perpanjangan masa sewa (kontrak) pesawat Kepresidenan hingga Oktober 2021. Keputusan itu tentu akan menambah perdebatan yang terjadi.
Baca juga: Airbus A380 Pernah Ingin Dijadikan Air Force One, Batal Gegara Hal Ini
Sebelumnya, beberapa pejabat dari berbagai fraksi di Negeri Ginseng itu sempat mempertanyakan keberadaan Code One dalam mendukung operasional presiden. Sebab, dengan menyandang status sebagai negara dengan PDB tertinggi ke-10 di dunia, sudah sepatutnya Korea Selatan mempunyai pesawat kepresidenan sendiri, bukan menyewa.
Lagi pula, di luar itu, Departemen Perencanaan Anggaran Majelis Nasional Korea mengklaim membeli pesawat sendiri untuk operasional presiden bisa lebih hemat hingga 470 miliar won. Sebab, masa pemakaiannya bisa sampai 25 tahun.
Atas alasan itu, Boeing sebetulnya sempat menawarkan 747-8VIP dengan kisaran harga US$ 460 juta sebagai pesawat kepresidenan Korea Selatan. Namun, penawaran ini tak kunjung mendapat persetujuan dari parlemen, karena sejumlah fraksi berbeda pendapat. Pada akhirnya, pemerintah mengambil langkah yang sama dengan sebelum-sebelumnya.
Dikutip dari Simple Flying, sejak tahun 2010 lalu, pemerintah Korea Selatan telah menyewa pesawat Boeing 747-400 Korean Air. Usai disewa, pesawat berusia 19 tahun (dibuat tahun 2001) kemudian dimodifikasi ulang sebagai program VC-X oleh pihak ketiga, di bawah pengawasan The Korean Air Force and Presidential Security Service.
Setelah dimodifikasi, Code One dilengkapi dengan berbagai teknologi dan sistem pertahanan, seperti radar-jamming (pengacau radar), missile-deflecting flares (flare untuk membelokkan rudal), dan state-of-the-art communication systems (sistem komunikasi canggih).
Selain itu, pesawat juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah, seperti kamar tidur dan kamar mandi setara hotel berbintang, kantor pribadi, ruang meeting, serta ruang tamu, dengan berbagai interior serta furniture kelas atas.
Fasilitas serupa kemungkinan besar akan tersedia pula di pesawat kepresidenan baru Korea Selatan, Boeing 747-8I, yang baru akan beroperasi pada November 2021 mendatang, usai kontrak Code One Boeing 747-400 Korean Air hangus.
Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar
Boeing 747-8I dikontrak oleh pemerintah Korea Selatan selama lima tahun, dengan nilai kontrak sebesar US$240 juta. Disebutkan, selain menyediakan satu pesawat lainnya sebagai back-up pesawat utama, Korean Air juga wajib menyediakan pilot, kru kabin, mekanik, dan layanan maintenance.
Sebagai informasi, di luar 747-400, lembaga kepresidenan Korea Selatan sebenarnya juga punya pesawat lain yaitu B737-300 dan CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia yang merupakan bagian dari armada Code One. Dua pesawat itu pada umumnya digunakan untuk tugas kenegaraan di dalam negeri atau tataran regional, berbanding terbalik dengan Queen of the Skies Code One.