Kendati pengadaannya menuai kontroversi, namun tidak sedikit golongan yang tetap menantikan kehadiran dari kereta cepat yang menghubungkan Jakarta dan Bandung. Kendala seperti pembebasan lahan nampaknya sudah menjadi tameng kuat bagi PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) ketika diberondong pertanyaan soal molornya pembangunan proyek bilateral ini.
Baca Juga: Jalan di Tempat, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Masih) Terbelit Pembebasan Lahan
Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ini sebelumnya diperkirakan rampung pada 2019. Target itu akhirnya molor menjadi tahun 2020. Salah satu penyebabnya adalah pembebasan lahan yang belum selesai sejak 2016. Mari tinggalkan sejenak tentang beragam kendala yang menghinggapi proyek di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo ini, dan mengetahui tentang sedikit bocoran tentang jalur dari kereta cepat pertama di Tanah Air ini.
Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, nantinya kereta ini akan menghubungkan empat stasiun, yaitu Halim, Karawang, Walini, dan Tegalluar Bandung. Pada Rabu (2/5/2018) kemarin, Menteri BUMN, Rini Soemarno meninjau langsung lokasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Halim. Pada kesempatan tersebut, Menteri Rini pun melihat langsung maket serta miniatur dari jaringan kereta baru ini.
Rini mengatakan, dari 13 terowongan yang ada di jalur kereta tersebut, terdapat satu terowongan terpanjang yang panjangnya mencapai 4,4km. “13 terowongan jadi memang banyak. Total dari 13 terowongan 16 km. Ada salah satu terowongan terpanjang yaitu terowongan 6 itu panjangnya 4,4 km,” tutur Rini, dikutp dari laman detik.com (2/5/2018).
“Ini memang yang waktu itu kita bicarakan bahwa titik-titik yang paling utama yang paling sulit adalah seperti di sini ini, di depan, mulai pembangunan terowongan di Halim dan ada di Walini dengan demikian ini terowongan yang di sini kira-kira 27 bulan,” tandas Rini sembari menjelaskan tentang waktu pembangunan terowongan yang paling kritis.
Guna melancarkan proyek sepanjang 142 km ini, China Railway Corporation (CRC) akan memberikan pelatihan khusus untuk para pekerja lokal. Pelatihan tersebut bakal diberikan melalui program pendampingan. “Nanti akan ada pendampingan satu tenaga kerja mereka (Tenaga Kerja Asing Tiongkok) untuk tiga sampai empat tenaga kerja Indonesia,” ungkap Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kemenko Maritim Ridwan Djamaludin, dikutip dari sumber lain.
Baca Juga: Jokowi Mandatkan Peninjauan Ulang Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Melalui pendampingan ini, diharapkan para pekerja lokal nantinya memiliki keahlian, pengetahuan, serta teknologi dalam mengembangkan proyek kereta cepat. Sebab, pembangunan infrastruktur proyek ini menggunakan teknologi yang terhitung baru di Indonesia.
Terpisah, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan peta kajian aspek geologi rinci dan mikrozonasi untuk Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung di daerah Walini dan sekitarnya. Peta kajian tersebut nantinya akan dijadikan panduan untuk pembangunan di kawasan itu, tidak terkecuali proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ini.