“Miris” mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sepak terjang salah satu pesawat legendaris dari McDonnell Douglas, DC-10, di jagat penerbangan dunia. Betapa tidak, pesawat yang mengakhiri karirnya pada 2014 lalu itu dilabeli oleh pecinta penerbangan di dunia dengan dua hal yang sangat berlawanan, “pekerja keras” yang bernada positif dan “jebakan maut” yang bernada negatif.
Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia
Uniknya, label tersebut (jebakan maut) seolah terkenang abadi setelah grup musik rock asal Inggris, The Clash, membuat lagu berjudul Spanish Bombs yang bercerita tentang sederet kecelakaan DC-10.
Dua label yang disematkan pesawat berkapasitas 250 hingga 380 penumpang itu memang sangat berdasar dan bukan semata karena kebencian pencinta Airbus maupun Boeing lovers.
Sejak pertama kali beroperasi pada 1971, riwayat pesawat trijet buatan Amerika Serikat (AS) ini bisa dibilang cukup mengerikan. Setidaknya, ada total 53 kecelakaan, dengan beberapa di antaranya tergolong fatal; memakan total korban jiwa hingga 841 jiwa.
Insiden terbesar pertama yang melibatkan DC-10 terjadi pada 1974. Kala itu, DC-10 Turkish Airlines jatuh akibat pintu kargo di bagian belakang pesawat meledak dan lepas hingga menyebabkan pesawat kehilangan kendali atau mengalami dekompresi eksplosif.
Pesawat akhirnya jatuh, sekitar 10 menit setelah lepas landas. Insiden tersebut pun menewaskan 346 orang atau seluru penumpang dan awak pesawat. Atas insiden tersebut, Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA), mewajibkan seluruh pintu kargo DC-10 dimodifikasi ulang.
Insiden berlanjut pada 25 Mei 1979, dimana 271 orang tewas saat DC-10 American Airlines jatuh tepat setelah tinggal landas di Chicago. Prosedur perawatan kilat yang merusak sistem hidrolik diidentifikasi sebagai penyebab utamanya. FAA kembali bereaksi. Enam hari kemudian, seluruh pesawat DC-10 digrounded.
Pabrikan, McDonnell Douglas, merespon dengan mengubah desain pesawat, tak disebutkan berapa persen perubahan yang dilakukan. Yang jelas, tak lama setelah mereka mengubah desain, DC-10 kembali diizinkan terbang.
Namun, DC-10 kembali terlibat kecelakaan. Pada tahun 1994, seorang karyawan FedEx berusaha membajak pesawat tersebut. Kemudian di tahun 1989, pesawat diledakkan oleh teroris di Gurun Sahara dan menewaskan 170 orang.
Meski demikian, beberapa pecinta penerbangan menyebut, sekalipun DC-10 terlibat banyak kecelakaan, hal itu tak serta merta membuat ia pantas dilabeli dengan kalimat bernada negatif. Gordon Stretch, pecinta penerbangan asal Solihull, Inggris, bahkan sampai membandingkan dengan pesawat supersonik Concorde untuk menunjukkan bahwa DC-10 tak seburuk yang dipikirkan.
Sejak awal terbang sampai pensiun, ditandai dengan penerbangan terakhir Biman Bangladesh Airlines pada 21 Februari 2014 lalu, pesawat berhasil diproduksi sebanyak 446 unit dan terlibat kecelakaan fatal sebanyak tiga kali. Sedangkan Concorde, dari 20 unit yang diproduksi, satu pesawat di antaranya terlibat kecelakaan. Dari secara rasio, DC-10 jauh lebih aman dibanding Concorde.
“Mereka hanya membangun 20 Concorde dan salah satunya jatuh. Saya tidak akan mengatakan DC-10 adalah pesawat yang tidak aman, ada masalah khusus dan prosedur perawatan pada saat itu tidak sesuai dengan kecepatan,” jelasnya, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari BBC International.
Baca juga: Di Ghana, DC-10 Eks Ghana Airways Beralih Fungsi Menjadi Restoran Bintang Lima
Dengan melihat sepak terjang DC-10 secara keseluruhan dan momentum kemunculannya saat itu, Gordon pun berharap DC-10 dapat dikenang sebagai pembuka jalan untuk penerbangan jarak jauh modern. “Ini sebuah pesawat terbang pelopor perjalanan jarak jauh,” ujarnya.
“Itu (DC-10) adalah salah satu jet besar yang pada dasarnya membuka pasar jangka panjang bagi masyarakat. Tanpa mereka, kurasa kita akan jauh lebih tertinggal dari yang ada sekarang,” tambahnya.