Pada tahun 2014 lalu atau lebih tepatnya 11 tahun lalu tragedi memilukan terjadi pada perkeretaapian Indonesia. Ya, tragedi KA Malabar yang mengalami kecelakaan akibat tanah longsor di Kabupaten Tasikmalaya itu terjadi pada 4 April 2014. Kejadian yang menewaskan 3 orang itu merupakan kejadian yang tak pernah hilang dari benak masyarakat. Proses evakuasinya sendiri pun memakan hampir 1 bulan. Kejadian ini kemudian dikenang dengan nama Kecelakaan KA Malabar.
Melansir dari berbagai sumber media, saat itu, Kereta Api Malabar (KA 86) membawa 7 gerbong yang terdiri dari kereta penumpang, kereta makan, dan kereta bagasi dengan total 360 penumpang. Kecelakaan ini disebabkan oleh longsornya tanah di km 244, Kampung Terung RT 05 RW 09, Desa Mekarsari, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Penyebab kereta api terguling dan kemudian jatuh ke jurang adalah karena hujan lebat yang mengguyur lokasi dengan durasi yang lama.

Berdasarkan situs Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, guyuran hujan dengan intensitas tinggi itu mengakibatkan tanah disekitar rel kereta api menjadi labil. Sayangnya, rel tidak mampu menahan beban KA Malabar yang melintas saat itu. Akibatnya lokomotif bernomor seri CC 206 13 55 terlebih dahulu tergelincir sembari menyalakan klakson darurat, bersamaan dengan 2 kereta kelas eksekutif. Diketahui, dua unit kereta kelas eksekutif yang jatuh tersebut bernomor seri K1 0 67 27 dan K1 0 67 22. Sedangkan lokomotif CC206 13 55 yang terperosok lalu keluar rel.
Lokasi kecelakaan ini pun menyulitkan upaya penyelamatan atas kecelakaan ini. Sampai 1 unit kereta bernomor seri K1 0 67 22 pun harus dirucat di lokasi terdekat yaitu Stasiun Cirahayu yang berada di sebelah barat dari lokasi kejadian. Sedangkan K1 0 67 27 dapat diselamatkan setelah dipasangkan bogie sementara dan diperbaiki besar-besaran di Balai Yasa Manggarai. Butuh waktu satu jam untuk berkendara dari Kota Tasikmalaya untuk sampai daerah Gentong. Para petugas penyelamat juga harus berjalan kaki di atas rel untuk sampai ke lokasi anjloknya kereta. Karena perjalanan kereta api saat itu masih belum bisa dilewati dan harus memutar lewat jalur utara tepatnya lewat Cirebon.
Untuk para korban yang selamat pada insiden tersebut langsung dipindahkan ke Stasiun Cirahayu, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari lokasi kecelakaan. Melansir berita kompas (5/4/2014) dari tiga korban yang tewas (yang diketahui saat itu) kecelakaan KA Malabar di ruas Ciawi-Cirahayu itu salah satu korban berasal dari Malang, Jawa Timur. Korban merupakan pegawai PT KAI kantor pusat Bandung yang bernama Ayu Dyah Kusumaningrum yang masih berusia 27 tahun. Di Malang, korban tinggal di Jalan Pendowo Nomor 11 Kecamatan Lawan, Kabupaten Malang. Diberitakan korban lain yang meninggal dunia dalam tragedi bernama Sri Hartanto (60), asal Sleman, Yogyakarta, dan Kharis Budi Cahyono, asal Jambon, Ponorogo.
Dari kejadian memilukan tersebut ternyata ada hal yang terbilang cukup aneh saat melakukan evakuasi. Dari saksi petugas penyelamat sempat menuturkan bahwa ada kejadian yang terbilang aneh, tepatnya menjelang malam. Ternyata beberapa kru melihat ada cahaya seperti lampu yang berkedip di bagian kabin lokomotif. Padahal lokomotof sudah dalam keadaan terperosok ke jurang dan tak ada satupun cahaya lampu yanh bisa menyala. Apalagi kondisi mesin memang sudah tidak hidup.
Beberapa hari kemudian kejanggalan yang kedua. Saat cuaca sedang hujan lebat, petugas mengevakusi lokomotif yang terperosok dan telah memisahkan bogie-nya, namun peristiwa tak terduga terjadi bahwa lokomotif meluncur makin dalam ke jurang. Ini pun makin menyulitkan evakuasi. Dan kejadian yang ketiga, saat lokomotif diangkat dan ingin dipindahkan ke atas menggunakan dua buah crane yang dikirim dari Jakarta, tali baja tiba-tiba putus, lalu lokomotif terpelanting dan jatuh kembali ke jurang.
Setelah beberapa hari tepatnya minggu ketiga pasca kejadian, petugas membuat gundukan tanah menuju ke arah lokomotif yang terperosok guna mempermudah evakuas. Dengan berhati-hati dan memakan waktu lebih dari 2 jam, akhirnya lokomotif bisa di evakuasi dengan selamat. Selanjutnya lokomotof tersebut dibawa menuju ke Balai Yasa Yogyakarta untuk di perbaiki lebih lanjut. Dan hingga saat ini lokomotif seri CC 206 13 55 sudah beroperasi menarik rangkaian kereta api di lintas Pulau Jawa.