Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia Irfan Setiaputra nampaknya serius menggarap rute internasional mereka di pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS), dalam hal ini Perancis (Paris), Amerika (Los Angeles dan atau San Francisco), dan India (Mumbai).
Baca juga: Garuda Indonesia Terbangi Hampir Seluruh Kota di Dunia via Amsterdam dan Tokyo
Menurutnya, penerbangan langsung dari Denpasar, Bali ke tiga rute tersebut berpeluang sangat menguntungkan perekonomian negara, sekalipun maskapai mengalami kerugian dengan nominal tak sedikit.
“Garuda diminta terbang ke kota-kota besar di dunia. Kita berencana terbang ke Amerika, berencana ke Paris, ke India, base on data siapa yang spending-nya banyak dan value position kita ke mereka adalah you fly to Denpasar directly,” kata Irfan saat diskusi virtual MarkPlus Industry Roundtable, Jumat (19/6).
“Karena kalau orang Paris, Perancis menghabiskan uang US$10 ribu dalam liburannya di Bali kan ga ada masalah kalau Garuda rugi US$500 per penumpang, karena kan nett di negara ini kita dapat US$10.500,” lanjutnya.
Ditemui secara eksklusif redaksi KabarPenumpang.com di kantornya, Irfan memang pernah membeberkan rencananya membuka penerbangan codeshare ke beberapa negara, seperti Perancis, Jerman, Mauritius, Amerika, Spanyol, dan Moskow. Namun, kala itu, untuk penerbangan langsung ia masih malu-malu mengakuinya.
Bila pun jadi merealisasikan rencana yang sudah menggaung sejak era Dirut sebelumnya itu, irfan memang mengaku siap rugi, dengan asumsi wisatawan yang berkunjung ke Bali menghabiskan uang sekitar US$10 ribu atau sekitar Rp146 juta (kurs 14.538).
Padahal, dari berbagai kasus yang ada, wisatawan mancanegara tak melulu terbukti membawa banyak uang ke Indonesia. Lagi pula, bicara data, wisatawan yang paling banyak menghabiskan uang bukan dari ketiga negara tersebut.
Dari data Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, yang paling banyak mengeluarkan uang saat mengunjungi Indonesia justru dari Timur Tengah (Timteng). Pengeluaran turis asing Timteng perorangnya mencapai US$1.918 per kunjungan. Jumlah ini mengalahkan wisatawan dari Eropa sebesar US$1.538 per turis asing per kunjungan. Juga wisatawan dari Cina yang mengeluarkan US$1.019 tiap turis asingnya per kunjungan.
Dari situ saja, pengakuan Irfan bahwa Garuda Indonesia siap rugi demi mendatangkan wisatawan mancanegara, dengan asumsi mereka menghabiskan uang sebesar US$ 10 ribu saja sudah tak masuk akal. Jika demikian, penerbangan langsung Garuda Indonesia rute Amerika Serikat, Paris, dan India hanya akan membunuh perusahaan itu sendiri, dengan benefit tak sebesar yang diasumsikan sebelumnya.
Bayangkan jika maskapai menanggung US$ 500 per orang per penerbangan atau Rp7,3 juta (kurs 14.538), apa tidak akan membunuh maskapai secara perlahan?
Tak ayal, dengan wacana tersebut, sekalipun bertujuan mulia, mendatangkan wisatawan mancanegara (bukan mengantarkan wisatawan dalam negeri ke mancanegara) demi perekonomian nasional, tetap saja banyak pihak yang merasa pesimistis. Bila pun tetap dipaksa berjalan, paling tidak akan bertahan lama.
Nada pesmistis juga datang dari media asing kenamaan dunia, Forbes. Dalam sebuah artikel Forbes yang ditulis Will Horton, pewarta penerbangan senior, jejak penerbangan internasional Garuda Indonesia kerap menimbulkan keragu-raguan.
Di samping itu, kebijakan dalam negeri terhadap maskapai asing dan wisatawan itu sendiri (dalam kaitannya dengan Covid-19) serta kapasitas dan kapabilitas perusahaan, juga dinilai tak relevan dengan rencana rute internasional Garuda. Akhirnya, mereka (Forbes) menilai bahwa rute internasional Garuda, dalam hal ini ke AS, dinilai tak akan menguntungkan.
Baca juga: Garuda Indonesia Canangkan Penerbangan Langsung Denpasar – Moskow
Jangankan pangsa pasar Eropa dan AS yang banyak pemain besar juga dengan reputasi besar, seperti Singapore Airlines (SQ), Cathay Pacific (CX), KLM, pangsa pasar Asia dan Australia saja Garuda Indonesia masih belum sepenuhnya sanggup mengalahkan Turkish Airlines, Qantas, SQ, ANA, Korean Air, dan lain sebagainya, khususnya dari segi harga dan pelayanan.
Lagi pula, untuk pasar Amerika Serikat, kepercayaan masyarakat terhadap maskapai nasional RI itu sempat memudar pasca larangan terbang ke negara tersebut. Sejak tahun 2007 lalu, badan keselamatan penerbangan AS (FAA) melarang Garuda Indonesia masuk AS karena hanya mendapat rating keselamatan dan keamanan penerbangan kategori 2 yang berarti buruk. Setelah pengkajian ulang, Garuda Indonesia dan beberapa maskapai lain akhirnya diizinkan kembali pada tahun 2016.