Seiring berjalannya waktu, umumnya, pesawat mau tak mau akan tergerus oleh zaman dan digantikan dengan pesawat lain yang lebih tangguh dan canggih, baik dari segi teknologi, kapasitas, maupun komponen pesawat.
Baca juga: Perang Dunia I Dorong Ilmuan Inggris Kembangkan Telepon Nirkabel di Kokpit
Namun, hal itu rasanya tak berlaku untuk McDonnell Douglas DC-3. Sejak pertama kali terbang pada 17 Desember 1935 dan diproduksi massal tak lama setelahnya, tercatat, sudah ada lebih dari 10 ribu pesawat DC-3 yang ‘dilahirkan’, baik dalam versi militer maupun sipil. Bahkan, sampai tahun 2017 lalu, masih ada sekitar 2.000an pesawat yang aktif melayani penerbangan komersial di seluruh dunia.
Padahal, produksi pesawat yang mempunyai sekitar 20 julukan tersebut -di antaranya Gooney Bird, The Flying Elephants, The Beast, Biscuit Bomber, Old Methuselah, dan banyak lagi- sudah dihentikan sejak tahun 1950an. Artinya, ribuan pesawat yang masih aktif melayani penerbangan komersial penumpang itu sudah melewati jam terbang atau tenggat operasional maksimum pesawat. Tentu mengacu pada standar umum umur pesawat.
Di Indonesia, misalnya, melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 7 Tahun 2016, operasional pesawat penumpang maksimum mencapai 30 tahun. Sedangkan untuk pesawat kargo, operasional pesawat maksimum mencapai 40 tahun.
Dilansir disciplesofflight.com, pesawat penumpang dengan panjang 19.7 meter dan tinggi 5.16 meter itu mampu mengangkut sekitar 14 penumpang dalam konfigurasi kelas bisnis (memungkin penumpang untuk tidur) atau 28-32 orang (atau setara 4.000 pon barang) dalam konfigurasi kelas ekonomi untuk penerbangan jarak pendek.
Douglas DC-3 pada awalnya ditenagai oleh dua mesin besar 1.200 tenaga kuda Wright Cyclone R-1820 dan didukung oleh tiga baling-baling steel Hamilton Standard. Model selanjutnya, termasuk versi militer, menggunakan mesin Twin Wasp Pratt & Whitney R-1830 (yang juga memiliki berat 1.250 pound, sama dengan versi sebelumnya).
Douglas DC-3 memiliki banyak keunggulan. Dari segi komponen, sebetulnya, pabrikan tak pernah membuat pesawat berbahan dasar logam dan DC-3 menjadi yang pertama. Tak heran, jika pesawat itu disebut sangat tangguh berkat bahan dasar logam itu. Bahkan, saking tangguhnya, proses perancangan pesawat disebut berlebihan, sebagai majas hiperbola, wujud dari apresiasi masyarakat terhadap kehebatan pesawat.
Bukti ketangguhan pesawat pengembangan dari DC-2 ini bukanlah kaleng-kaleng. DC-3 tercatat menjadi pesawat terbang pertama yang mampu mendarat di Kutub Selatan pada tahun 1956. Selain itu, DC-3 versi militer (C-47) pernah mengangkut jauh melebihi kapasitas, mulai dari 75 orang saat serangan bom di Tokyo di musim Perang Dunia II dan 93 orang (tiga kali kapasitas normal) saat banjir besar di Brasil.
Masih kurang? DC-3 versi militer juga pernah tercatat dalam pendaratan aneh. Disebut aneh, sebab, satu waktu, pesawat sudah kehabisan bahan bakar, kemudian seluruh penumpang terjun. Alih-alih jatuh sembarang, pesawat malah disaksikan oleh tim mendarat sempurna dengan mulus di padang rumput, beberapa mil dari posisi tim berada.
Dari segi efiseinsi, DC-3 memang tak lebih irit dibanding Boeing model 247. Namun hal itu wajar, mengingat berat pesawat Boeing masih setengah dari berat total DC-3. Sudah begitu, dari segi daya jangkau, Boeing hanya mampu menjangkau 745 mil dan mengangkut 273 galon kapasitas bahan bakar.
Sedangkan, DC-3 mampu terbang sejauh 1.500 mil dengan kapasitas bahan bakar maksimum mencapai 804 galon. Meski demikian, para ahli menyebut, tingkat efisiensi yang dicapai DC-3 sudah tergolong sangat baik di zamannya.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, tak heran bila hanya dalam tempo tiga tahun pasca kemunculan, DC-3 didaulat sukses mengangkut 90 persen lebih penumpang dari seluruh maskapai di Amerika Serikat (AS), mulai dari American Airlines hingga United Airlines.
Baca juga: Ternyata, Jakarta Merupakan Destinasi Penerbangan Antar Benua Perdana KLM!
Di Indonesia sendiri, DC-3 tercatat sebagai pesawat pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Dakota DC-3 RI-001 Seulawah; ditenagai oleh dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kilogram dengan kecepatan maksimum mencapai 346 km per jam. Pesawat ini juga menjadi cikal bakal berdirinya flag carrier nasional, Garuda Indonesia.
Tak lupa, DC-3 atau Dakota VT-CLA juga merupakan pesawat nahas Indonesia yang jatuh ditembak P-40 Kittyhawk Belanda saat agresi militer sekutu, pasca kemerdekaan Indonesia. Di antara orang Indonesia yang tewas, ada Komodor Udara Adisucipto, Komodor Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, dan operator radio Adisumarmo Wiryokusumo, dimana saat ini nama ketiganya diabadikan menjadi bandara.