Setelah kemarin sempat mempertimbangkan untuk melakukan pembatalan pemesanan sejumlah pesawat Boeing, kini PT Lion Air Mentari nampaknya semakin yakin dengan pilihannya tersebut. Sebelumnya, pembatalan pemesanan ini merupakan buntut dari kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 pada akhir Oktober silam di Perairan Karawang. Adapun nominal dari pemesanan Lion Air terhadap armada Boeing mencapai US$22 miliar atau yang setara dengan Rp319,3 triliun.
Baca Juga: Buntut Insiden JT-610, Pihak Lion Air Bisa Batalkan Pesanan Pesawat ke Boeing!
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Rusdi Kirana selaku pemilik Lion Air mengaku kecewa atas tanggapan yang dilontarkan pihak Boeing menanggapi kecelakaan yang menewaskan 189 orang tersebut. Diketahui, Lion Air hingga saat ini memiliki 368 pesanan pesawat kepada Boeing dan Airbus – lebih banyak tiga kali lipat dari 117 armada yang beroperasi saat ini. Khusus untuk Boeing, pihak manufaktur pesawat ini masih memiliki 250 pesawat yang akan dikirim kepada Lion Air.
Mengutip dari laman resmi Boeing, dijelaskan bahwasanya masih terdapat 190 pesanan dari pihak Lion Air yang belum dipenuhi. Dengan pemesanan ini, Lion Air merupakan pelanggan luar negeri terbesar bagi Boeing. Pemesanan dalam jumlah sangat masif ini merupakan salah satu ambisi perusahaan untuk melakukan ekspansi besar-besaran, yaitu menerbangkan 1.000 unit pesawat.
Rusdi juga mengatakan, Lion Air pun bisa jadi akan mendaftarkan unit bisnis Indonesia di pasar saham pada tahun 2019. Masih belum jelas apakah Boeing akan turut memiliki andil dalam ekspansi besar-besaran Lion Air pasca perselisihan yang terjadi di antara kedua belah pihak.
Jika benar pihak Lion Air membatalkan pemesanan terhadap Boeing, maka pilihan untuk menjadi suksesor Boeing dalam hal ini akan jatuh ke pihak Airbus dan bisa jadi akan muncul juga nama Sukhoi sebagai kuda hitam. Varian Airbus A320 dan SJ (Super Jet) 100 milik Sukhoi dinilai mampu untuk menandingi kualitas armada Boeing 737 family, karena secara keseluruhan, tiga armada beda perusahaan ini memiliki spesifikasi yang tidak terlalu jauh berbeda dan mumpuni di kelas narrow body.
Khusus untuk SJ100 dan Boeing 737-800, seorang pengamat penerbangan, Alvin Lie mengatakan bahwa keduanya tidak jauh berbeda. Alvin menerangkan bahwa SJ100 yang notabene adalah pesawat rakitan Rusia ini mampu take-off dari landas pacu yang pendek – berbanding terbalik dengan Boeing 737-800 yang harus menggunakan landas pacu panjang untuk take-off.
Untuk konfirgurasi bangku, Sukhoi SJ100 memiliki konfigurasi ruang 3-2, sedangkan Boeing 737-800 konfigurasinya adalah 3-3. Sementara untuk harga, SJ100 dibanderol dengan harga yang hampir setengah dari Boeing 737-800. Pada tahun 2012 silam, harga 1 unit SJ100 dibanderol US$32 juta, sedangkan untuk Boeing 737-800 dibanderol dengan harga US$60 juta per unit.