Airbus dan Qatar Airways dikabarkan sedang menuju kesepakatan untuk menyelesaikan perselisihan pahit atas pengadaan pesawat widebody A350 yang telah dilarang terbang. Setelah berbulan-bulan perseteruan publik, tidak ada jaminan bahwa kesepakatan dapat dicapai setelah upaya sebelumnya untuk menghindari persidangan tingkat tinggi di London tahun ini dibatalkan.
Baca juga: Makin Panas, Airbus Tuntut Qatar Airways Rp3,1 Triliun Gegara Batal Beli Dua Pesawat A350
Dikutip dari reutes.com, dua sumber mengatakan bahwa ada indikasi yang menggembirakan dan negosiasi telah dipercepat setelah kesibukan aktivitas politik dan pertemuan empat arah yang lancar antara kedua perusahaan dan regulator masing-masing (Perancis dan Qatar) di Doha pekan lalu.
“Akan ada kesepakatan,” kata salah satu sumber, sementara yang lain memperingatkan bahwa pembicaraan masih berlangsung. Airbus dan Qatar Airways sejauh ini belum memberik komentar resmi.
Kedua perusahaan telah bertarung di pengadilan Inggris selama berbulan-bulan atas dampak keselamatan dari pengelupasan cat yang mengekspos korosi dan celah di sub-lapisan proteksi petir.
Perselisihan antara dua pemain terbesar penerbangan telah menyebabkan pembatalan pesanan skala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Airbus. Perseteruan antara dua perusahaan unggulan Perancis dan Qatar juga menjadi perhatian para pemimpin kedua negara.
Sumber diplomatik mengatakan kepada Reuters bulan ini bahwa Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani telah berbicara tentang perselisihan tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Menteri Keuangan Perancis Bruno Le Maire juga membahas masalah ini selama kunjungan empat hari di wilayah Teluk termasuk singgah pada Minggu di Doha, di mana dia bertemu dengan emir dan pejabat lainnya, kata sumber kementerian keuangan Perancis.
Kerusakan yang dilaporkan pada sistem antipetir pada Airbus A350 telah mendorong Qatar Airways untuk berhenti menerima pengiriman dan menuntut Airbus dengan jumlah yang ganti rugi yang telah meningkat jauh di atas US$1 miliar.
Regulator Qatar telah mengandangkan setidaknya 29 unit pesawat dengan alasan pertanyaan keselamatan yang belum terjawab. Airbus telah mengakui adanya masalah kualitas dengan model penerbangan jarak jauh perdananya, tetapi menyangkal adanya risiko terhadap keselamatan.
Qatar Airways menuduh Airbus berkolusi dengan Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa – European Union Aviation Safety Agency (EASA), yang menyatakan jet itu aman. Ditanya tentang klaim tersebut, direktur eksekutif agensi tersebut, Patrick Ky, mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara: “Tentu saja tidak.”
Sementara itu Airbus menuduh Qatar Airways sebagai tangan tersembunyi di balik keputusan untuk meng-grounded A350 oleh Otoritas Penerbangan Sipil Qatar – Qatar Civil Aviation Authority, tuduhan yang dibantah oleh maskapai.