Pemerintah Hong Kong pada April lalu memborong 500 ribu tiket pesawat. Hal itu dilakukan untuk menyelamatkan maskapai penerbangan dari kabangkrutan. Membeli tiket pesawat sebanyak itu diyakini jadi cara ampuh ketimbang memberikan utang baru yang pada akhirnya hanya memberatkan maskapai saat kondisi berangsur normal.
Baca juga: Bandara Hong Kong Dapat Suntikan Rp64 Triliun, Bagaimana dengan Bandara di Indonesia?
Sebelumnya, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyerukan ke pemerintah di seluruh dunia agar memberikan paket stimulus lanjutan ke maskapai penerbangan. Setidaknya, di paruh kedua 2020 ini, maskapai membutuhkan sekitar US$77 miliar atau sekitar Rp1.133 triliun (kurs 14.700) uang tunai untuk membiayai operasional.
Saat ini, kondisi keuangan maskapai berbeda-beda. Di antara mereka, ada yang mempunyai stok uang tunai sampai delapan bulan ke depan. Sebagain besar lainnya kurang dari itu. Padahal, vaksin massal diprediksi baru akan terjadi di penghujung tahun 2021 mendatang. Asosiasi itu pun ragu melihat maskapai bertahan sampai vaksin massal terjadi tanpa bantuan pemerintah.
Sejalan dengan IATA, pemerintah Hong Kong pun mencari cara untuk bisa menyelamatkan maskapai. Alih-alih memberikan utang baru, pemerintah Hong Kong akhirnya memutuskan memborong 500 ribu tiket pesawat.
Jika diuangkan, langkah tersebut setara dengan kucuran dana sebesar US$260 juta. Secara nominal, angka segitu memang kecil. Air Canada, misalnya, untuk memperkuat likuiditas, flag carrier Kanada itu mendapatkan suntikan modal sebesar US$1,62 miliar atau sekitar Rp24 triliun lebih. Angka tersebut pun dikabarkan belum final dan masih akan ada suntikan modal lainnya seiring perkembangan industri penerbangan global.
American Airlines Group akhir Maret lalu dikabarkan telah memenuhi persyaratan untuk mendapatkan kucuran dana sebesar US$12 miliar atau Rp196 triliun sebagai bagian dari paket pinjaman dan hibah dari pemerintah AS sebesar US$58 miliar atau Rp949 triliun untuk maskapai penerbangan. Adapun Qantas, disebut hanya akan mendapatkan dana sebesar US$636,1 juta atau sebesar Rp10 triliun (kurs Rp16.009).
Begitu juga dengan Singapore Airlines, yang mendapat suntikan modal dari Temasek International, pemilik saham mayoritas (55 persen) Singapore Airlines (SIA), dan beberapa perusahaan lainnya sebesar S$19 miliar atau Rp218 triliun (kurs Rp11.292).
Baca juga: Tiket Pesawat Naik Sehari Setelah “Travel Bubble” Singapura-Hong Kong Diumumkan
Suntikan tersebut pun digadang-gadang akan menjadi langkah penyelamatan atau paket stimulus terbesar terhadap sebuah maskapai di tengah wabah virus Corona. Terbukti, hingga saat ini, belum ada suntikan modal ke maskapai manapun yang berhasil melebihinya.
Akan tetapi, dari segi efektivitas, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, pembelian 500 ribu tiket oleh pemerintah Hong Kong dinilai lebih brilian. Disebutkan, hal itu bisa memantik pulihnya traffic penerbangan. 500 ribu tiket dari empat maskapai lokal itu nantinya akan dibagikan ke masyarakat dan traveler asing dengan cara diundi setelah Covid-19 dianggap sudah terkendali.