KLM tuntas melakukan retrofit satu dari 14 armada jarak pendek Boeing 737-800 miliknya. Ini diperkirakan berhasil mengurangi berat total pesawat dan membuat pesawat hemat bahan bakar 58 ton per pesawat per tahun atau 812 ton total 14 pesawat. Hal itu juga membuat pesawat berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon.
Baca juga: Rayakan HUT Ke-100, KLM Torehkan Penerbangan ‘Terlama’ Menuju Indonesi
Dari sisi penumpang, retrofit pesawat Boeing 737-800 KLM ini akan menawarkan kenyaman lebih; seperti kursi ergonomis nyaman, inflight WiFi, gratis instan messaging selama 30 menit, port USB di setiap kursi, tempat sampah lebih besar, serta pencahayaan LED terbaru.
Dengan kursi lebih ringan dan ergonomis, secara total, pesawat jadi lebih ringan hingga 700kg atau rata-rata 20 persen lebih ringan dari kursi sebelumnya.
“Ini menghemat 58 ton bahan bakar dan 184 ton emisi CO2 per pesawat per tahun. Bila ditotal 14 armada pesawat, ini menunjukkan penghematan bahan bakar tahunan sebesar 812 ton dan pengurangan 2.576 ton emisi CO2,” kata KLM dalam siaran persnya, seperti dikutip dari Simple Flying.
Tidak hanya membuat maskapai hemat operasional karena hemat bahan bakar imbas bobot pesawat berkurang, kursi pesawat ergonomis dari retrofit Boeing 737-800 KLM juga menggunakan kulit bekas layak pakai untuk mendukung berkelanjutan.
Proyek retrofit 14 dari 31 armada Boeing 737-800 KLM diharapkan selesai pada Maret 2022 mendatang, dimana satu retrofit yang telah rampung dilaporkan sudah beroperasi. Pesawat dioperasikan untuk layanan regional Eropa.
Boeing 737-800 KLM yang diretrofit rata-rata sudah berumur 20 tahun. Sebelumnya, maskapai nasional Belanda itu sudah lebih dahulu meretrofit seluruh armada Airbus A330 tuanya pada 2018 silam.
Kendati retrofit Boeing 737-800 tidak dilengkapi dengan in flight entertainment, sebagaimana armada widebody maskapai, namun, setidaknya port USB dan berbagai kelengkapan lainnya bisa memenuhi kebutuhan penumpang.
KLM memang menjadi salah satu maskapai yang fokus berpartisipasi dalam inovasi serta keberlanjutan di industri penerbangan.
Tahun lalu, ketika pandemi virus Corona merebak, maskapain tertua di dunia yang masih beroperasi itu sukses mencapai tonggak tertinggi dalam pengembangan pesawat Flying-V hasil kerjasama dengan TU Delft, usai model skala dari pesawat tersebut sukses terbang perdana.
Baca juga: Boeing 777 KLM “Orange Pride” Mangkrak di Beijing Sejak Awal Tahun Baru
Flying-V sendiri adalah desain pesawat jarak jauh yang diklaim sangat hemat energi. Itu karena, desain kabin penumpang, kargo, dan tangki bahan bakar terintegrasi dengan sayap sehingga menciptakan bentuk “V”. Desain tersebut tentu berbeda dengan pesawat pada umumnya, dimana desain badan pesawat dan sayap tidak terintegrasi.
Dari hasil permodelan di komputer, desain aerodinamika konsep Flying V terbukti mengurangi bobot pesawat sehingga menghasilkan penerbangan hemat energi hingga 20 persen dibandingkan pesawat tercanggih yang ada saat ini, Airbus A350-900. Menariknya, efisiensi tersebut diperoleh dengan dimensi pesawat yang lebih kecil namun tetap memuat kursi dalam jumlah banyak, mencapai 314 penumpang.