Sunday, April 6, 2025
HomeAnalisa AngkutanKisah 74 Tahun Garuda Indonesia Berdiri: Pernah "Takut" Huruf ‘B’ di Registrasi...

Kisah 74 Tahun Garuda Indonesia Berdiri: Pernah “Takut” Huruf ‘B’ di Registrasi Pesawat, Karena Bawa Sial?

Pada hari ini, Garuda Indonesia genap berusia 74 tahun. Sejak didirikan pada 26 Januari 1949, maskapai kebanggaan Indonesia itu telah melalui pasang surut bisnis dan seribu satu cerita yang menyertainya. Salah satunya adalah ketakutan atau traumatis terhadap huruf ‘B’ pada huruf terakhir registrasi pesawat. Apa sebab?

Baca juga: De Javu Krisis Garuda Indonesia, Dirut Irfan Mungkin Bisa Belajar dari Dirut Robby Djohan?

Kabar tersebut datang dari salah satu pengamat penerbangan yang juga Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia ke-14, Indra Setiawan.

Kepada KabarPenumpang.com, ia bercerita bahwa ketika pesawat baru datang dan hendak diregistrasi, sejawatnya di perseoran mengatakan jangan menggunakan huruf Bravo (B) pada huruf terakhir registrasi pesawat. Dengan begitu, setelah huruf ‘Alfa’ langsung lanjut ke huruf ‘Charlie. Sebagai contoh, PK-GHA, PK-GHC, dan seterusnya.

Tak begitu jelas atas dasar apa huruf ‘Bravo’ dihindari petinggi Garuda Indonesia kala itu. Saat ia menjabat pun, praktis hanya bisa melanjutkan aturan tak tertulis itu.

Demikian juga kapan itu dimulai, tak begitu jelas. Yang pasti, dihindarinya huruf ‘Bravo’ tiga tiga huruf terakhir registrasi pesawat dimulai di era tiga Dirut Garuda; Wiweko Soepono, R.A.J. Lumenta, dan Moehamaf Soeparno. Di bawah pimpinan tiga Dirut tersebut, Garuda Indonesia bisa dibilang memasuki masa keemasan dan banyak penambahan armada baru.

Baca juga: Sejarah Pesawat Airbus A300, Dari Proses Penamaan Hingga Sumbangsih Dirut Garuda Indonesia

Kabar yang beredar ketika itu, lanjut Indra, pesawat yang registrasi pesawatnya terdapat huruf ‘Bravo’ beberapa kali terlibat insiden, sehingga ini dikhawatirkan menjadi semacam pembawa sial. Alasan lain kenapa ‘Bravo’ pada registrasi pesawat Garuda Indonesia dihindari adalah karena menghindari arti ‘Brovo’ itu sendiri yang dinilai tidak membawa kesan positif sehingga dihindari.

Menariknya, aturan tak tertulis itu terus dilanjutkan Dirut setelahnya sampai di era Irfan Setiawan. Data dari planespotters.net, dari 73 pesawat Garuda Indonesia yang ada saat ini, dimana 46 di antaranya aktif beroperasi dan sisanya di-grounded, tak satupun mengusung huruf ‘Bravo’.

Sebagai contoh, pesawat Airbus A330-300 pertama Garuda Indonesia diregistrasi sebagai PK-GHA. Sebelum lanjut, PK atau Papa Kilo sendiri adalah tanda registrasi warisan dari Pemerintah Kolonial Belanda yang ditetapkan oleh ICAO dan diteruskan oleh Pemerintah Indonesia sampai saat ini. Kenapa tidak diubah menjadi RI saja? Di bagian lain mungkin akan kita bahas tersendiri terkait hal ini.

Kode regitrasi biasanya terdiri dari dua bagian. Awalan satu atau dua karakter pertama menunjukkan negara tempat pesawat diregistrasi, sedangkan bagian kedua (yang biasanya dipisahkan dengan tanda “-“) yang terdiri dari satu sampai lima karakter menunjukkan identifikasi pada pesawat.

Untuk huruf pertama mewakili maskapai. Adapun Garuda Indoensia mendapatkan awalan G. Huruf kedua yang merupakan jenis pesawat sebenarnya lebih rumit, apalagi juga terkait dari seri pesawat itu dengan jenis yang sama. Huruf ketiga adalah urutan kedatangan pesawat.

Baca juga: Ada Convair 990 Garuda Indonesia (Juga) dalam Komik Tintin

Atas dasar itu, seharusnya, salah satu pesawat Airbus A330-300 kedua Garuda Indonesia diregistrasi sebagai PK-GHB, bukan PK-GHC. Faktanya, saat ini, registrasinya adalah PK-GHC, melompati huruf ‘B’.

Terlepas apapun alasannya, di dunia, maskapai lain pun melakukan hal serupa. Salah satunya Singapore Airlines. Maskapai itu diketahui menghindari huruf ‘C’ pada akhir huruf registrasi pesawat Boeing 777-300ER miliknya. Setelah 9V-SWA, dan –SWB, pesawat ketiga diregistrasi sebagai 9V-SWD, melongkapi huruf ‘C’.
























RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru