Sudah bukan menjadi sebuah rahasia lagi apabila gadget yang Anda gunakan mengalami error, maka Anda akan memuat ulang gadget tersebut agar bisa kembali digunakan secara normal. Aksi ini kerap menjadi solusi bagi banyak orang di luar sana yang mengalami kendala pada gadgetnya. Namun apa jadinya jika fitur serupa diterapkan pada moda transportasi? Mungkinkah sebuah moda transportasi di restart ulang untuk mengembalikan performanya?
Baca Juga: Japan Airlines Terima Airbus A350-900, Tapi Justru Layani Penerbangan Domestik
Jawabannya adalah mungkin! Fitur semacam ini diterapkan oleh manufaktur aviasi asal Eropa, Airbus yang menyebutkan bahwa apabila pilot mengalami kendala sistem (bug) pada varian A350, mereka cukup mematikan ulang pesawat secara keseluruhan dan menghidupkannya kembali. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mic.com (31/7), pihak Airbus mengatakan bahwa restart semacam ini juga dianjutkan untuk dilakukan pilot jika pesawat sudah mengudara selama 149 jam. Ini ditujukan untuk menghindari komplikasi pada sistem pesawat A350.
Fitur ini diterapkan Airbus sejak mendapatkan peringatan dari European Union Aviation Safety Agency (EUASA) pada tahun 2017 silam, yang menyebutkan bahwa usia maskapai yang lebih tua akan berpengaruh pada munculnya bug pada sistem perangkat lunaknya – dan ini akan berdampak pada pengoperasian pesawat terkait.
“Jika tidak lekas diperbaiki, maka dikhawatirkan penerbangan berada dalam kondisi yang tidak aman,” tutur pihak EUASA.
Tidak mau mengambil risiko dan terpuruk seperti rivalnya, Boeing, akhirnya pihak Airbus menambahkan fitur restart pada varian A350nya untuk terhindar dari masalah keselamatan ketika beroperasi. Untuk memastikan perangkat lunak terus beroperasi seperti yang diharapkan, pihak Airbus menyarankan kepada setiap maskapai untuk melakukan restart setiap 149 jam sekali (pada dasarnya sekitar enam hari sekali).
Baca Juga: Singapore AirShow 2018: Airbus Perkenalkan A350-1000 Untuk Pasar Trans-Pasifik
Ya, hadirnya fitur semacam ini pada sektor aviasi global seolah menjadi jawaban dari masalah kekurangan armada ketika salah satu dari mereka keluar dari layanan untuk perbaikan dan pemeliharaan – setidaknya armada Airbus A350 hanya akan memakan waktu yang lebih pendek untuk maintenance dan perbaikan karena sistem perangkat lunak sudah bisa di restart sendiri.
Pertanyaannya adalah, akankah teknologi semacam ini tersemat pada pesawat-pesawat jenis lain yang ada di luar sana?