Sebagaimana yang sudah terpapar sejak beberapa dekade, sektor kedirgantaraan global dikuasai oleh dua produsen pesawat raksasa yang sekaligus menjadi rival abadi masing-masing – Boeing dan Airbus. Dua nama pabrikan ini seolah tidak pernah luput dari pemberitaan, terlebih sejak akhir tahun 2018 kemarin, dimana publik dunia menyoroti kasus kecelakaan yang menimpa maskapai berbiaya rendah asal Indonesia, Lion Air yang jatuh di Perairan Tanjung Karawang pada 29 Oktober 2018. Dengan menggunakan pesawat Boeing 737 MAX 8, sontak sorotan dunia tertuju pada Boeing.
Baca Juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8
Penjelasan pihak Boeing yang berbelit terkait kecelakaan ini, aksi saling lempar tanggung jawab antara pihak Lion Air dan Boeing, hingga yang paling mengenaskan adalah jatuhnya maskapai Ethiopian Airlines di Addis Ababa (kurang lebih) lima bulan berselang – dengan menggunakan jenis pesawat yang sama. Sudah jatuh dan tertimpa tangga pula, mungkin ini merupakan peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi Boeing hingga saat ini. Ya, pihak Boeing terus dihantui sentilan-sentilan negatif terkait dua kecelakaan yang menewaskan lebih dari 300 orang ini.
Tapi jangan kira Airbus bisa mengambil keuntungan dari situasi Boeing yang hingga saat ini diketahui masih terpuruk. Ternyata Airbus juga mengalami kesialan yang memang tidak seburuk Boeing. Pabrikan pesawat asal Eropa ini dikabarkan gagal membaca permintaan pasar dengan tepat nan akurat. Hal ini terbukti dengan munculnya varian A380 ke publik. Kalau boleh dibilang, A380 merupakan produk ‘salah pasar’ dari Airbus yang sudah kadung menjadi fenomenal berkat ukuran dan daya tampungnya.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (25/6/2019), di awal perilisannya, Airbus menargetkan mampu menjual hingga 1.200 unit varian A380, namun pada kenyataannya mereka hanya mampu menjual kurang dari sepertempat dari target tersebut.
Kendati memiliki masalahnya masing-masing yang berkaitan dengan nominal uang yang tidak sedikit, tapi mengapa kedua nama ini masih saja tidak bisa disingkirkan kedigdayaannya?
Tentu saja, selain dari nama kedua raksasa ini yang sudah kadung mendunia, alasan lain di balik sulitnya untuk menggeser singgasana dari kedua pabrikan pesawat ini adalah karena mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk berkecimpung di sektor serupa.
Baca Juga: Airbus Rayakan Ulang Tahun ‘Emas,’ Digdaya Hampir di Semua Lini
“Hambatan(dari sektor ekonomi) untuk masuk pasar ini sangatlah besar,” ujar seorang analis kedirgantaraan, Cai von Rumohr.
Sebut saja dua nama pabrikan pesawat yang coba merangsek masuk untuk menggeser kedigdayaan keduanya – Bombardier dan Embraer. Alih-alih berhasil menggeser, nama keduanya malah menjadi bahan akuisisi oleh kedua raksasa tersebut.
Jadi, masih bingung kenapa kedua pabrikan pesawat ini tidak bisa dilengserkan?