Perang yang kemungkinan menyulut Perang Dunia III antara Beijing dan Washington, dengan Taiwan menjadi medan tempurnya, berpotensi pecah usai kedatangan Ketua DPR Amerika Serikat (AS), Nancy Pelosi, Selasa malam. Ia dan rombongan datang menggunakan pesawat Boeing C-40C SPAR 19.
Baca juga: Boeing C-40, Varian Unik 737 yang Jarang Diketahui Publik
Bukan hanya menantang Cina, kedatangannya juga disinyalir membuat penerbangan sipil terganggu akibat pergerakan armada militer kedua belah pihak.
Sebelum kedatangan Pelosi ke Taiwan, Cina sudah mengerahkan armada militernya di laut dan udara dalam jumlah besar. Beijing bahkan melakukan latihan militer yang ditujukan langsung ke wilayah Taiwan, sejalan dengan peringatan keras dari Menteri Luar Negeri Cina atas kunjungan tersebut, yang berarti melanggar nine dash line atau sembilan garis putus-putus, dimana Taiwan termasuk di dalamnya.
Usai Boeing C-40C SPAR 19 yang membawa Pelosi dan rombongan mendarat di Taiwan, pejabat pulau yang diklaim Cina tersebut melaporkan lebih dari 12 pesawat tempur Sukhoi Su-35 Cina masuk ke zona pertahanan udara Taiwan.
AS tentu tidak tinggal diam. Dalam berbagai pemberitaan internasional, Armada Ketujuh Angkatan Laut AS mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir Ronald Reagan di sekitar Laut Filipina, selatan Taiwan. Ronald Reagan didampingi oleh USS Higgins dan USS Carl Brashear. Di atas kapal-kapal tersebut terdapat banyak armada jet tempur F-35. Ini semua demi memastikan keamanan kunjungan Pelosi.
Ketegangan dan pengerahan armada militer inilah yang pada akhirnya disebut membuat penerbangan sipil kacau dan menghindari wilayah di sekitar Laut China Selatan (LCS) dan Taiwan.
Meski begitu, penerbangan sipil dari dan ke Taiwan, dari pantauan di FlightRadar24, tetap normal seperti biasa. Demikian juga saat pesawat Boeing C-40C SPAR 19 Nancy Pelosi menuju Taiwan sampai mendarat di sana. Semua cenderung normal kendati ada sterilisasi airways di sekitar jalur yang dilewati SPAR19.
Dilansir Indomiliter.com, SPAR 19 tak lain adalah callsign dalam penerbangan, sementara pesawat yang digunakan adalah Boeing C-40C Clipper dengan nomor 09-0540 yang dioperasikan Angkatan Udara AS. Dengan livery biru putih khas “Air Force One” menjadikan pesawat narrow body ini tampil laksana pesawat mini kepresidenan.
Boeing C-40C Clipper sendiri merupakan pesawat militer yang dibangun dari pesawat sipil Boeing 737-700 Business Jet.
Boeing C-40 mempunyai tiga varian berbeda, mulai dari C-40A “Clipper”, C-40B, dan C-40C. Embrio masing-masing varian tersebut juga berbeda-beda dan didapuk sebagai pengganti para pendahulunya.
C-40 Clipper adalah versi militer dari pesawat komersial Boeing 737-300. Pesawat ini pertama kali beroperasi pada tahun 2003 dengan berbagai fitur unggulan, seperti rest area kru, kompartemen pengunjung yang istimewa dengan tempat tidur, dua dapur kecil, dan tempat duduk kelas bisnis dengan meja kerja. Fitur-fitur tersebut sangat memanjakan berbagai pejabat penting negara, seperti menteri, anggota DPR, hingga pejabat militer.
Berbeda dengan C-40A Clipper, C-40B versi militer yang lahir dari pengembangan Boeing 737-700 business jet ini diplot sebagai pengganti C-137 yang dianggap sudah senja. Seperti C-40A Clipper, C-40B juga dibuat untuk menjadi kantor terbang bagi para pejabat AS. Namun, fitur yang ditonjolkan berbeda dengan Clipper.
C-40B lebih menonjolkan kemampuan komunikasi sebagai fitur utama pesawat. C-40B menyediakan kemampuan transmisi dan penerimaan data/video broadband serta komunikasi suara dan data yang jernih dan aman.
Baca juga: Boeing T-43 Gator – Seri Boeing 737-200 yang Menjadi Pesawat Latih Navigasi Udara
Fitur tersebut tentu sangat menunjang mobilitas para pejabat untuk mengurus pekerjaan dan bisnis di mana saja di seluruh dunia menggunakan Internet on-board dan koneksi jaringan area lokal, telepon, satelit, monitor televisi, serta mesin faksimili dan fotokopi. C-40B juga memiliki sistem data penumpang berbasis komputer.
C-40 Clipper dan C-40B boleh saja dilengkapi dengan fitur berkelas, namun, keduanya tak mempunyai kemampuan untuk mengubah konfigurasi semudah C-40C. Versi militer yang ditugaskan untuk mengisi pos peninggalan C-22 yang sudah uzur ini mampu mengubah konfigurasinya untuk menampung dari 42 menjadi 111 penumpang.