Judul di atas terkesan provokatif, maklum mengacu ke nilai kesopanan dan aturan yang diberlakukan oleh penyedia wahana transportasi, golongan orang tua (lanjut usia) harus mendapat prioritas untuk mendapat tempat duduk, bahkan pakem yang berlaku orang yang lebih muda dan sehat lumrahnya memberi kursi bagi orang tua. Namun lain halnya dengan Sir Muir Gray, profesor yang juga tergolong lanjut usia dari Universitas Oxford ini punya pandangan yang berbeda.
Baca juga: Berusia 104 Tahun, Baiq Mariah Asal Lombok Jadi Jemaah Haji Tertua di Dunia
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (18/10/2017), Muir Gray mengatakan bahwa jangan buru-buru memberikan tempak duduk kepada orang tua di bus atau kereta. Gray berpendapat bahwa menjadi tua bukan berarti aktvitas harus diturunkan. “Justru kita harus mendorong aktivitas fisik seiring bertambahnya usia, salah satunya membuat mereka berdiri adalah latihan yang bagus untuk ketahanan fisik,” ujar Muir Gray. Ia menambahkan, usia tua seharusnya tidak dilihat sebagai waktu untuk sekedar bersantai. “Kita perlu menantang gagasan bahwa orang tua harus beristirahat,” tambah Muir.
Meski begitu, Ia menyebut bahwa setelah usia 65 tahun seseorang akan mengalami kemunduran dalam fisik, termasuk ortopedinya. Idealnya para manula tetap harus menjaga aktivitas, minimal latihan moderat selama 150 menit setiap minggunya.
Baca juga: Dari Jepang Hingga Bandung Tawarkan Sensasi Makan di Atas Bus
Dalam hal berbeda, memberi tempat duduk pada orang tua bisa dianggap hal yang buruk, bahkan bisa dikira melakukan pelecehan, ini terjadi dalam budaya Jepang. Alasannya, orang tua di Jepang tidak suka bila anak muda menganggap mereka perlu dibantu atau lebih tepatnya, mereka tidak suka dikasihani. Umumnya di setiap negara, termasuk di Indonesia, untuk manula, ibu hamil, ibu membawa balita dan penyandang disabilitas akan dimasukkan sebagai penumpang prioritas.
Berkaca kembali ke pernyataan Sir Muir Gray, tentu harus disikapi secara bijaksana dan melihat situasi serta kondisi yang ada di sekitaran.